• Senin, 26 September 2022

Fakta Dibalik Kontroversi Pelabelan BPA

- Senin, 8 Agustus 2022 | 19:54 WIB
Galon kemasan isi ulang
Galon kemasan isi ulang

HARIANTERBIT.com - Polycarbonat atau yang dikenal dengan PC, yang mengandung Bisphenol-A , mencuat belakangan ini di media menyusul rencana dikeluarkannya regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang akan mengatur pelabelan terhadap galon polycarbonat atau galon guna ulang yang beresiko menandung bahan kimia berbahaya Bisphenol-A (BPA). 

Namun, rencana regulasi ini dibanjiri opini dari segelintir pendukung industri plastik BPA di Indonesia yang menutup mata melihat fakta bahaya BPA terhadap kesehatan. Banyak literatur dan penelitian yang telah menyatakan bahwa Plastik BPA terbukti tidak aman, Banyak negara telah melarang penggunaannya. Bahkan, dari banyak negara di dunia, kini, hanya tersisa di dua negara berkembang yang masih memperbolehkan , yaitu Indonesia dan Vietnam.

Perancis, negara dimana Danone Aqua menginduk, adalah negara yang mengawali kampanye kesehatan BPA Free. Pun, pada tahun 2011, Indonesia mengadopsi kecenderungan dunia dengan memutuskan dilarangnya BPA pada kemasan bayi. Seiring itu tak terbantah semua merek air kemasan botol di Indonesia berbondong- bondong menggunakan plastik PET yang bebas BPA.

Baca Juga: Mana Lebih Berbahaya untuk Kesehatan: Galon BPA atau Plastik PET?

Namun, ironisnya, di balik semua fakta ini, masih ada saja hembusan kritik terhadap plastik PET, yang keamanannya bahkan telah diakui aman oleh seluruh dunia

Bicara data, keunggulan plastik PET, bahkan didukung riset yang menegaskan botol plastik PET aman digunakan. 

Kesimpulan ini dipublikasikan Council of Scientific and Industrial Research-Central Food Technological Research Institute (CSIR-CFTRI), Mysore, India. Analisis CSIR-CFTRI menyimpulkan bahwa dipapar temperatur tinggi pun plastik PET tidak menyebabkan migrasi di dalam kemasan, semuanya masih di bawah batas deteksi (below detection limit). 

Batas ini juga masih di bawah regulasi Uni Eropa (UE) tentang “batas migrasi spesifik”, yang merupakan jumlah maksimum senyawa yang bisa bermigrasi dari kemasan ke dalam minuman di dalamnya. Hasil riset ini mengonfirmasi bahwa tidak ada pelepasan senyawa antimon dalam kemasan botol plastik PET, yang kerap digadang- gadang sebagai bahaya PET. 

Selain itu, juga tidak ditemukan adanya endokrin disruptor (bahan kimia yang dapat mengganggu endokrin atau sistem hormon tubuh, seperti yang terkandung dalam plastik BPA) dalam penggunaan botol plastik PET. Secara keseluruhan, hasil riset ini menyimpulkan tidak ada senyawa kimia pada botol plastik PET yang melanggar batasan regulasi Uni Eropa.

“PET adalah plastik yang istimewa dan merupakan kemasan yang digunakan secara universal untuk makanan, farmasi, air, minyak sayur, perawatan tubuh, dan banyak lagi,” kata Dr. Shekhar C. Mande, Direktur Jenderal CSIR, pejabat tinggi di Department of Scientific and Industrial Research, Kementerian Sains dan Teknologi, India belum lama ini.

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Pertolongan Pertama pada Kasus Jantung Henti Mendadak

Minggu, 25 September 2022 | 11:04 WIB

Gempa M6,4 Guncang Meulaboh Aceh

Sabtu, 24 September 2022 | 06:15 WIB

Gubernur Anies Relaunching RS Siloam Mampang

Minggu, 18 September 2022 | 23:08 WIB

Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra Meninggal

Minggu, 18 September 2022 | 12:49 WIB

Disindir AHY soal BLT, Mensos Risma Jawab Begini

Jumat, 16 September 2022 | 20:04 WIB

BSU Tahap 2 Dibagi Minggu Depan, Ini Syarat-syaratnya

Jumat, 16 September 2022 | 18:43 WIB

Enam Individu Satwa Liar Dilepasliarkan di Bungo

Jumat, 16 September 2022 | 17:08 WIB

Rekomendasi Susu Untuk Maksimal Atasi Tulang dan Sendi

Jumat, 16 September 2022 | 16:08 WIB

WHO: Akhir Pandemi Covid 19 Sudah di Depan Mata

Kamis, 15 September 2022 | 07:42 WIB
X