• Kamis, 1 Desember 2022

Mana Lebih Berbahaya untuk Kesehatan: Galon BPA atau Plastik PET?

- Jumat, 29 Juli 2022 | 06:51 WIB
Ilustrasi galon air mineral
Ilustrasi galon air mineral

Guru Besar Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Andi Cahyo Kumoro memperkuat pendapat ini. “Pelepasan BPA pada galon guna ulang rentan terjadi bila galon sampai tergores atau terpapar sinar matahari langsung,” katanya belum lama ini.

“Efeknya, paparan BPA bisa memunculkan gangguan pada sistem saraf dan perilaku anak. Sedangkan pada ibu hamil bisa memicu keguguran,” tambahnya.

Setidaknya sejak dekade kedua Abad ke-21, regulasi di sejumlah negara mulai membatasi, dan bahkan melarang, penggunaan kemasan plastik polikarbonat karena kandungan BPA di dalamnya. Pada 2018, misalnya, Uni Eropa menurunkan batas migrasi BPA yang semula 0,6 bpj (bagian per juta) menjadi 0,05 bpj.

Baca Juga: Baralangga Kecam Pernyataan Haris Pertama: Sudah Dipecat KNPI, Ketum Odong-odong

Beberapa negara, seperti Perancis, Brazil, serta negara bagian Vermont dan Distrik Columbia di Amerika Serikat bahkan melarang penggunaan BPA pada kemasan pangan, termasuk air minum. Negara bagian California di Amerika Serikat mengatur pencantuman peringatan label bahaya BPA pada kemasan produk pangan olahan.

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah merancang peraturan pelabelan BPA pada air minum dalam kemasan plastik galon BPA. Rancangan itu antara lain akan mewajibkan produsen air minum dalam kemasan galon BPA untuk mencantumkan label “Berpotensi mengandung BPA” pada produknya.

Baca Juga: Menko Airlangga: Realisasi KUR Penempatan Pekerja Migran Indonesia capai Rp2,42 Triliun

Selain karena tren pembatasan penggunaan kemasan yang mengandung BPA di sejumlah negara, BPOM menempuh kebijakan tersebut setelah melakukan survei lapangan, baik di sarana produksi maupun peredaran, selama 2021-2022.

Hasil survei lapangan itu menemukan 3,4 persen sampel di sarana peredaran tidak memenuhi syarat batas maksimal migrasi BPA, yakni 0,6 bpj.

Lalu ada 46,97 persen sampel di sarana peredaran dan 30,91 persen sampel di sarana produksi yang dikategorikan “mengkhawatirkan”, atau migrasi BPA-nya berada di kisaran 0,05 bpj sampai 0,6 bpj. Ditemukan pula 5 persen di sarana produksi (galon baru) dan 8,67 persen di sarana peredaran yang dikategorikan “berisiko terhadap kesehatan” karena migrasi BPA-nya berada di atas 0,01 bpj.

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Dosen UBL Latih UMKM Lebak Taklukkan Covid

Selasa, 29 November 2022 | 16:00 WIB

BKKBN Edukasi Filipina Atasi Kasus Stunting

Selasa, 29 November 2022 | 09:10 WIB

YPPLP Gelar Wisuda Tahfidz dan Khatam Al-Qur’an

Senin, 28 November 2022 | 17:16 WIB
X