• Kamis, 18 Agustus 2022

BMKG Jelaskan Penyebab Peningkatan Suhu Udara di Wilayah Indonesia

- Selasa, 17 Mei 2022 | 23:21 WIB

Jakarta, HanTer - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan suhu udara panas dipengaruhi faktor klimatologis dan diamplifikasi dinamika atmosfer skala regional dan skala meso.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Klimatologi BMKG, Urip Haryoko menjelaskan, analisis pengukuran suhu permukaan dari 92 Stasiun BMKG dalam 40 tahun terakhir menunjukkan peningkatan suhu permukaan dengan laju yang bervariasi.

Secara umum tren kenaikan suhu permukaan lebih nyata terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Pulau Sumatera bagian timur, Pulau Jawa bagian utara, Kalimantan dan Sulawesi bagian utara mengalami tren kenaikan lebih dari 0.3℃ per dekade.

Laju peningkatan suhu permukaan tertinggi diketahui terjadi di Stasiun Meteorologi Temindung, Kalimantan Timur (0.95℃ per dekade), sedangkan laju terendah terdapat di Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin, Bima (0.01℃ per dekade).

Sementara, suhu udara permukaan di wilayah Jakarta dan sekitarnya meningkat dengan laju 0.40 - 0.47℃ per dekade.

"Dari analisis ini nyatalah bahwa kejadian suhu udara panas kali ini memang dipengaruhi oleh faktor klimatologis yang diamplifikasi oleh dinamika atmosfer skala regional dan skala meso, inilah yang menyebabkan udara terkesan menjadi lebih 'sumuk' dan menimbulkan pertanyaan, bahkan keresahan (selain kegerahan) publik," ujar Urip, dalam keterangannya, Selasa (17/5/2022).

Urip mengatakan kejadian suhu harian yang tinggi di Indonesia sering dikaitkan sebagai akibat perubahan iklim. Pernyataan tersebut tidak salah meskipun juga tidak dapat dibenarkan sepenuhnya.

Dalam setiap satuan kejadian cuaca, tidak dapat diatribusikan secara langsung ke pemanasan global atau perubahan iklim. Perubahan iklim harus dibaca dari rentetan data iklim yang panjang, tidak hanya dari satu kejadian.

Namun, tren kejadian suhu panas dapat dikaji dalam series data yang panjang, apakah terjadi perubahan polanya, baik magnitudo panasnya maupun keseringan kejadiannya.

Halaman:

Editor: Arbi Terbit

Terkini

Indonesia Darurat Plastik Berbahaya BPA

Selasa, 16 Agustus 2022 | 22:50 WIB

Waspada Meterai Elektronik Palsu

Minggu, 14 Agustus 2022 | 16:18 WIB

Dokter Berikan Tips Cegah Penularan Cacar Monyet

Minggu, 14 Agustus 2022 | 12:04 WIB

Menyoal Keamanan ASI Booster bagi Ibu dan Bayi

Jumat, 12 Agustus 2022 | 21:15 WIB
X