Daripada Memunculkan Gejolak, Prof Sulastri: Tepat Harga BBM Tidak Diturunkan

Harian Terbit/Alee
Daripada Memunculkan Gejolak, Prof Sulastri: Tepat Harga BBM Tidak Diturunkan

Tepatkah harga bahan bakar minyak (BBM) diturunkan di saat harga minyak dunia alami penurunan serta merebaknya pandemi COVID-19? 

Menurut ekonom Universitas Indonesia (UI) Profesor Sulastri Surono menilai, keputusan untuk tidak menurunkan harga BBM beberapa waktu lalu sudah tepat dilakukan karena saat ini atau hanya dalam waktu sekitar dua bulan, harga minyak mentah kembali melonjak lebih dari 100 persen.

"Sebenarnya kan memang masih berfluktuasi. Jadi memang sudah seharusnya, diamkan saja harga waktu itu, tidak diturunkan. Daripada akhirnya malah memunculkan gejolak," kata Sulastri di Jakarta, Rabu (10/6/2020).

Saat ini, lanjutnya, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus sudah mencapai 42,30 dolar AS /barel di London ICE Futures Exchange melonjak 19,2 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), tambahnya, naik pada level 39,55 dolar AS/barel atau menguat 10,7 persen dalam sepekan.

Jika harga BBM ikut naik turun, menurut Sulastri, justru akan memunculkan gejolak, padahal dalam masa pandemi, permintaan juga menurun drastis.

Bahkan, dikatakannya, dalam perhitungan inflasi, bahan pokok yang memiliki kontribusi besar, harganya juga cenderung turun. "Apalagi permintaan akan transportasi selama pandemi juga jauh berkurang," katanya melalui keterangan tertulis.

Sulastri menilai harga BBM sebaiknya memang dalam posisi wait and see saja serta harus dilihat bagaimana tren selanjutnya. "Ini kan pengaruh dari luar negeri, OPEC. Jadi masih berfluktuasi. Apalagi kalau pada level 40 dolar AS, belum berpengaruh ke APBN," kata dia diansir Antara.

Tepat

Sementara itu, Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Mudrajad Kuncoro mengatakan, keputusan Pemerintah mempertahankan atau tidak menurunkan BBM beberapa waktu lalu, dianggap tepat karena pertumbuhan ekonomi berbagai sektor di Indonesia saat ini negatif.

Menurut Mudrajad, pertumbuhan sektor minyak dan gas secara kuartal ke kuartal, negatif 0,75 persen selain itu meskipun dilihat year to year naik, tetapi sangat kecil, hanya 0,43 persen.

"Itu yang menyebabkan pemerintah tidak berani menurunkan harga. Karena pelaku usaha sektor migas berjatuhan, termasuk Pertamina dan PGN," kata Mudrajad melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.

Pertumbuhan yang negatif tersebut, menurut dia, karena permintaan memang tidak ada atau juga ikut turun sehingga turut berpengaruh juga terhadap pertumbuhan sektor minyak dan gas. "Sektor lain juga banyak yang negatif. Paling parah adalah pendidikan, yang minus 10,39 persen," katanya.

Secara keseluruhan, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi saat ini anjlok menjadi 2,97 persen year to year, dari sebelumnya yang berada pada angka 5 persen.

Selain itu, keputusan tidak menurunkan harga BBM itu juga tepat karena harga minyak mentah dunia masih sangat berfluktuasi, yakni ketika April harga minyak Brent anjlok pada pada level sekitar 20 dolar AS/barel, saat ini kembali melesat sekitar 100 persen.

"Minyak Brent sekarang sudah menyentuh harga 42,30 dolar AS/barel. Harga minyak masih bisa naik dan bisa turun," ujarnya.

Harga minyak dunia, menurut Mudrajad, sangat berfluktuasi karena naik-turunnya harga minyak dunia, sangat dipengaruhi faktor geopolitik internasional, termasuk perang harga Arab Saudi dan Rusia serta Amerika.

Bahkan, tambahnya, saat ini, ketika harga kembali naik, juga dominan disebabkan faktor suplai, bukan permintaan, karena OPEC sepakat memangkas produksi 9,7 juta barel/hari.

"Karena suplai dikurangi, otomatis harga naik. Ini teori permintaan yang biasa," katanya.

#Corona   #covid-19   #pertamina   #tarif   #bbm