Dimensi Sosial dan Politik Virus COVID-19

***
Dimensi Sosial dan Politik Virus COVID-19
S Indro Tjahyono

Oleh: S Indro Tjahyono, Pegiat Sosial

Saat ini muncul informasi bahwa tingkat kematian akibat Covid 19 di Indonesia melebihi tingkat kematian global. Indonesia pun menempati urutan kedua setelah Itali. Tingkat kematian memperbandingkan antara kasus dan korban yang meninggal. Padahal seharusnya jumlah penduduk ikut diperhitungkan.  

Mengapa, karena banyaknya korban akibat virus Covid 19 dipengaruhi oleh faktor-faktor majemuk bukan kinerja medik semata. Hitungan tingkat kematian virus corona dipengaruhi oleh faktor-faktor sbb:

(1)Tingkat peradaban

(2) Kebiasaan

(3) Etika yang dipilih

(4) Morfologi tubuh

(5) Kelembagaan sosial

(6) Leadership sosial

Jadi janganlah menyalahkan tingkat kematian karena lemahnya salah satu faktor. Kalau menyalahkan *salah satu faktor* mungkin adalah dalam hal menjaga dan kemampuan mengelola kesehatan lingkungan atau komunitas. Tetapi kemampuan ini maksimal hanya berpengaruh 50% saja.

Padahal selain itu terdapat faktor domestik dan lingkungan sekeliling, misalnya peradaban. Yang dimaksud tingkat peradaban adalah misalnya orang berpikir bahwa "penyakit datang dari Allah, maka berdoalah agar Allah mencabutnya".Orang ini tidak berpikir bahwa untuk mencabut penyakit itu Allah bisa mengirim dokter dan obat-obatan.

Kebiasaan, adalah perilaku yang samasekali tidak rasional. Kita sudah biasa menunjukkan keintiman melalui sentuhan. Seolah tanpa menyentuh berarti orang itu tidak akrab.

Etika adalah sesuatu yang mengendalikan sikap dan perilaku kita. Menolong orang sakit akan mendapat ganjaran di dunia dan akhirat. Celakanya orang itu sakit akibat infeksi Covid 19. Jadi tanpa peralatan yang aman merawat orang itu sampai dirinya akhirnya tertular.

Morfologi tubuh atau biologi adalah kondisi yang menyebabkan munculnya imunitas tubuh sebagai modal melawan virus. Pikiran (DNA),  dinamika hormon, makanan, dan mobilitas sangat menentukan kekebalan seseorang. Sekarang ditemukan bahwa golongan darah O paling resisten terhadap virus Covid 19.

Kelembagaan sosial adalah sarana dan prasarana untuk melakukan pengendalian upaya melawan dan mengobati penyakit menular. Kalau kinerja kelembagaan lemah memang dapat meningkatkan derajat penularan dan kematian. Tetapi kelembagaan sosial bukan faktor tunggal yang menyebabkan naiknya tingkat kematian.

Leadership sosial atau adanya rezim yang terarah, terukur, terpadu, dan terkordinasi menggerakkan elemen sosial dalam menangkal dan mengatasi resiko penyakit sangat penting. Epidemi dan pandemi penyakit hanya bisa diatasi oleh suatu rezim terpimpin. Kalau masing elemen masyarakat melakukan improvisasi dalam menangani wabah, yang terjadi justru kebocoran dalam membendung serangan penyakit.

Apalagi ada orang yang secara tidak langsung membiarkan penyakit berkembang, karena virus dianggap sebagai senjata biologis untuk makar dalam menjatuhkan kekuasaan. Caranya adalah membangun kebijakan dan menyebarkan informasi ,sehingga masyarakat panik. Diharapkan kepanikan akan membangun tuduhan bahwa biang keroknya adalah pemerintah.