Siasat Hadapi Kekeringan 

***
Siasat Hadapi Kekeringan 
Yiyi Sulaeman, Peneliti Sumberdaya Lahan Pertanian

KEKERINGAN saat ini merupakan rutinitas tahunan yang menjadi bagian siklus iklim sehingga bukan musibah atau bencana yang tak dapat disyukuri. Bagi sebagian orang kekeringan dapat menjadi berkah sepanjang manusia dapat beradaptasi dengan mensiasatinya sehingga dapat terus bersyukur. 

Manusia juga mendapat anugerah untuk mampu mengembangkan teknologi yang mampu membaca gejala alam dan upaya menghadapinya. Saat ini tersedia banyak teknologi yang dapat dipadukan untuk hadapi kekeringan. 

Siasat pertama adalah menjaga lahan tetap lembap dengan biochar dan bahan organik. Biochar merupakan arang yang dikenal umum dan bukan merupakan barang mahal. Petani mampu membuatnya dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitar hanya dengan sedikit perbaikan pada proses pembuatan arang. Kualitas arang akan meningkat dan dapat memperbaiki lahan kering. 

Pada daerah-daerah dengan curah hujan rendah, biochar dapat meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman. Beberapa penelitian menunjukkan biochar asal bahan baku soft wood seperti limbah pertanian tongkol jagung dan sekam padi mampu meningkatkan kelembaban tanah dan ketersediaan air bagi tanaman. Tanah yang diberi biochar mengalami peningkatan jumlah pori-pori tempat menyimpan air.

Demikian pula bahan organik yang telah lebih dulu dikenal sebagai pengikat air dapat mengurangi dampak kekeringan. 

Metode lainnya yang bisa digunakan untuk menghadapi musim kemarau ini, yakni meningkatkan kapasitas penyimpanan air dalam tanah dengan memanfaatkan bahan organik. Berdasarkan penelitian pemberian bahan organik meningkatkan kapasitas  menyimpan air  meningkat hingga 30 %.

Bahan organik dapat berperan juga sebagai mulsa yang mencegah air hilang menguap ke udara. 

Siasat kedua adalah memperbaiki tata air di lahan. Tata kelola air sebaiknya dimulai sejak musim hujan untuk menghindari penyusutan cadangan air pada musim kemarau. Air pada musim hujan di konservasi di lahan maupun saluran-saluran serta disimpan pada tandon air yang biasa disebut long storage dengan memanfaatkan saluran yang ada. Pada musim kering, air yang tertahan di long storage dapat dimanfaatkan pada musim kemarau.

Perangkat infrastruktur untuk long storage dapat dilakukan dengan membuat pintu-pintu air sehingga secara otomatis air yang melimpah pada musim hujan dapat disimpan dan tidak hilang menjadi air limpasan. 

Sistem pengelolaan air juga berlaku di lahan tadah hujan semisal dengan embung. Pada dasarnya prinsipnya sama hanya metodenya yang berbeda.

Siasat ketiga adalah kemampuan prediksi awal musim hujan dan akhir musim kering sehingga dapat melakukan percepatan tanam maupun antisipasi. Contohnya memasuki awal musim hujan (MH) 2019/2020 BMKG memperkirakan akan mundur 1-3 dasarian dari normalnya di sebagian besar wilayah Indonesia yang akan dimulai Oktober, November dan Desember. 

Sifat hujan MH diprakirakan normal dan puncak MH diprakirakan pada Januari dan Februari 2020. 

Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi memprediksi kejadian hari tanpa hujan > 10 hari masih berpeluang tinggi di wilayah Jawa, Bali, Nusa tenggara, Sulawesi , sebagian Maluku dan Papua pada bulan Agustus sampai Oktober. 

Hasil pemantauan kekeringan padi oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa luas terkena kekeringan tahun 2019 lebih tinggi daripada tahun 2018. 

Hasil prediksi Balitklimat menunjukkan risiko kekeringan agronomis masih tinggi pada periode Agustus-Oktober 2019. Penanaman dan penyelamatan tanaman eksisting perlu dilakukan dengan irigasi suplementer. Memasuki awal MH pada bulan November risiko kekeringan agronomis rendah. 

Siasat keempat dengan rekayasa sistem budidaya. Sistem pertanian konservasi (Conservatioan Agriculture) yang diterapkan Badan Litbang Pertanian bersama FAO di NTT, NTB, Sulteng menunjukan kelembaban tanah masih bisa menutupi keperluan air untuk tanaman.

Baru-baru ini di Sigi di lokasi pasca gempa, Badan Litbang Pertanian juga melakukan rekayasa tanah sehingga lahan menguntungkan meski didera kekeringan. 

Siasat kelima penggunaan varietas adaptif kekeringan. Menurut Dr. Wihardjaka, peneliti utama di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Balingtan, terdapat varietas yang dapat menyesuaikan dengan kondisi yang kurang menguntungkan seperti kekeringan.  

Beberapa varietas padi yang telah teruji toleransinya terhadap kekeringan diantaranya Inpari 38, Inpari 39, Inpari 40, Inpari 41 dengan potensi hasil antara 7.83 sampai 9.60 t/ha GKG. Ada pula varietas Inpari 10.

Untuk jagung Badan Litbang Pertanian telah melepas varietas jagung hibrida yang toleran cekaman kekeringan seperti Jharing 1 dengan potensi hasil di atas 8 ton/ha pada kondisi optimum dan di bawah 8 t/ha pada kondisi cekaman kekeringan.   Tersedia pula jagung komposit yang toleran kekeringan yaitu varietas  Jakaring -1 yang digunakan di lahan-lahan  perkebunan dengan tingkat naungan <45%. 

Tentu apapun siasat yang dapat ditawarkan, semua berpulang pada petani sebagai eksekutor di lapangan. Badan Litbang Pertanian berupaya mendorong petani menerapkan teknologi dengan membangun demfarm dan denplot. Contohnya Demfarm Serasi di Talangrejo (Sumsel) dan Jejangkit (Kalsel) bisa menjadi etalase bagi para petani rawa menghadapi kekeringan. 

Ada pula demplot pertanian konservasi di NTT dan NTB serta Sulteng yang menjadi media belajar bagi petani untuk mengelola lahan kering iklim kering. 

Tersedia juga Demfarm pertanian lahan kering di lahan pasca gempa di Sigi (Sulteng) yang  menjadi contoh bagi para petani yang terdampak gempa bumi Sulteng tahun lalu.

Di sisi lain Badan Litbang Pertanian juga gencar melakukan bimbingan teknis budidaya hingga pasca panen. Bahkan, target petani milenial satu juta orang menjadi strategi untuk memampukan petani.

Alam dengan siklus keringnya memberikan inspirasi bagi insan untuk belajar dan beradaptasi  untuk tetap berproduksi. Budidaya tanaman adalah salahsatu cara bersyukur kita. Tuhan YME menjanjikan bahwa rezeki akan senantiasa bertambah untuk insan yang senantiasa bersyukur.

Oleh: Yiyi Sulaeman, Peneliti Sumberdaya Lahan Pertanian