• Jumat, 9 Desember 2022

Riset dan Inovasi Teknologi Bisa Membuat Indonesia Swasembada Pangan

- Rabu, 21 September 2022 | 16:33 WIB

HARIANTERBIT.com – Wakil Menteri (Wamen) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pahala Nugraha Mansury mengatakan, tantangan utama Indonesia saat ini harus menjawab independen energi. Dengan memastikan energi security dan food security.

“Setiap hari kita masih mengimpor 300 ribu barel minyak dalam bentuk produk dan mentah,” beber Pahala Nugraha Mansury saat menghadiri acara peluncuran Produk Unggulan hasil kerjasama antara Holding Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) dan Riset Indonesia Plantation & Forestry Institute di Jakarta, Rabu, 21 September 2022.

Pahala mengungkapkan, setiap tahun Indonesia masih mengimpor lebih dari 4 juta ton gula konsumsi dan gula kebutuhan industri. Kondisi ini sangat ironis, di tengah melimpahnya sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.

Baca Juga: Aktivis Anti Hoax: Ternyata Salah Satu Produsen Air Galon Sekali Pakai Bukan Produk Lokal

"Kita mampu berhenti impor solar 2018 lalu. Ini berkat kebijakan kita secara disiplin menerapkan B20, sekarang jadi B30,” katanya.

Pahala menegaskan, ketahanan energi dan ketahanan pangan berada di bawah PTPN dan PT Perhutani group. Apalagi saat ini, Indonesia sudah memiliki etanol (E5) dan (E10). “Sejak 2015 lalu, etanol ini (E5 dan E10) belum bisa kita terapkan. Karena kita belum memiliki produk etanol yang cukup,” ujarnya.

Ia menyakini, dengan produksi gula saat ini, lima tahun ke depan Indonesia sudah mampu swasembada pangan. Apalagi, didukung oleh riset inovasi teknologi. “Misalnya di tanaman tebu, kita harus melakukan riset, bagaimana tebu bisa menghasilkan gula yang lebih banyak,” ungkapnya.

“Riset itu investasi untuk masa depan kita. Kalau kita sekarang bisa meraih laba besar, maka kita harus berinvestasi untuk masa depan,” katanya.

Sementara itu Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani mengatakan, saat ini ada beberapa tantangan yang harus dihadapi sektor perkebunan dan kehutanan, yakni mahalnya harga pupuk, perubahan cuaca dan iklim yang tidak menentu akibat dari climate change, serta produktivitas beberapa komoditas perkebunan dan kehutanan yang masih rendah.

Baca Juga: Presiden Jokowi Senang Atas Prestasi Timnas Sepakbola Amputasi Indonesia Berlaga di Piala Dunia

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

X