• Senin, 26 September 2022

Indonesia Diharap Tak Terdampak Parah Pada Situasi Stagflasi Global

- Minggu, 7 Agustus 2022 | 15:26 WIB
Ilustrasi rupiah terpuruk, neraca perdagangan jeblok
Ilustrasi rupiah terpuruk, neraca perdagangan jeblok

HARIANTERBIT.com - Anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo berharap Indonesia tak terdampak para dari situasi stagflasi yang terjadi di tingkat global. Oleh karena, tambah politisi PDI-Perjuangan itu, jika stagflasi global benar-benar terjadi dan berkepanjangan, dampaknya akan sulit dihindari.

“Kita berharap Indonesia tidak mengalami dampak parah dari stagflasi global ataupun mengalami stagflasi," jelas Andreas dalam keterangan tertulisnya, Jumat (4/8/2022).

Ia menambahkan saat ini ancaman terjadinya stagflasi semakin nyata. Bahkan, bukan tidak mungkin, ancaman tersebut akan menghantam perekonomian nasional.

Baca Juga: Diperiksa di Mako Brimob, Ferdy Sambo Ditempatkan di Ruang Khusus

Hal itu dapat merujuk dari rilis IMF dalam World Economic Outlook (WEO) edisi Juli 2022 yang memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2022 sebesar 0,4 ppt menjadi 3,2 persen.

“Beberapa faktor pendorong pemangkasan tersebut adalah, pertama adanya perlambatan ekonomi yang lebih tajam di Tiongkok akibat perpanjangan lockdowns, sehingga memperburuk gangguan rantai pasokan global," tambah Andreas.

Faktor kedua, kata Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI tersebut, pengetatan likuiditas global terkait dengan kenaikan suku bunga acuan yang lebih agresif oleh Bank Sentral dari beberapa negara maju, seperti The Fed, ECB, dan Bank of England). Faktor ketiga adalah dampak dari perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan.

Diketahui, Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, kembali menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 75 bps dari 1,50 – 1,75 persen menjadi 2,25 – 2,50 persen pada FOMC Juli 2022. The Fed menegaskan kembali bahwa kenaikan FFR lanjutan masih diperlukan, dan akan tetap melanjutkan proses pengurangan balance sheetnya secara signifikan.

“Target suku bunga The Fed akan berada pada 3,5 persen di 2022 ini dan kemungkinan mencapai peak-nya di semester I tahun 2023 sebelum kembali turun di semester II," ucap Andreas.

Sementara, kata Andreas, ekonomi Tiongkok juga hanya tumbuh 0,4 persen year on year (yoy) di 2Q22, melambat tajam dari pertumbuhan 4,8 persen di Quartal 1 2022. Pertumbuhan tersebut adalah laju ekspansi paling rendah sejak kontraksi pada Quartal 1 2020 ketika awal pandemi Covid-19 terjadi.

Halaman:

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Cek Data BSU, BPJamsostek Imbau Pekerja Akses Kanal Resmi

Selasa, 20 September 2022 | 20:22 WIB

Kata OJK soal Persoalan PT. Titan dan Bank Mandiri

Senin, 19 September 2022 | 17:16 WIB

Kinerja BTN Syariah Menggila

Senin, 19 September 2022 | 16:18 WIB

Ditengah Isu Akuisisi, Laba BTN Syariah Menggila

Minggu, 18 September 2022 | 16:29 WIB

BTN Hadir di RSPAD

Sabtu, 17 September 2022 | 16:47 WIB

Laba Bersih BTN Melonjak 59,87 Persen

Kamis, 15 September 2022 | 16:16 WIB
X