Penggunaan Pertamax Sudah Jadi Gaya Hidup dan Simbol Kebanggaan Bagi Penggunanya

anu
- Kamis, 10 Februari 2022 | 10:45 WIB
Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan
Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan

Jakarta, HanTer--Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, penggunaan BBM RON 92 ke atas sudah menjadi gaya hidup bagi masyarakat Indonesia. Bahkan dengan hadirnya Pertashop di desa-desa dan penjualan Pertamax meningkat, merupakan indikasi bahwa sampai ke pedesaan pun sudah sadar pentingnya menggunakan BBM ron tinggi. 

“Penggunaan BBM Ron tinggi saat ini sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi para penggunanya. Mereka akan mentertawakan atau tersenyum sinis jika ada penggunaan kendaraan baik itu mobil maupun motor terutama keluaran baru masih menggunakan BBM Ron rendah. Hal ini membuktikan bahwa edukasi terkait manfaat dari bbm ron tinggi sudah berjalan dengan cukup baik.”ujar Mamit dalam keterangan tertulisnya Kamis,(10/2/22).

Langit Biru

Mamit menyampaikan, program langit biru yang dilakukan oleh Pertamina terbukti mendapatkan sambutan dan edukasi yang tepat serta memberikan efek positif bukan hanya kepada manusia tetapi juga pada lingkungan sesuai dengan komitmen yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Belum lagi kebijakan Pertamina yang sudah 2 tahun ini tidak pernah menyesuasikan harga BBM Pertamax merupakan bentuk dukungan bagi program pemerintah. Apa yang dilakukan oleh Pertamina harus diapresiasi oleh semua pihak termasuk konsumen.

“Luar biasa dukungan Pertamina untuk tetap menahan harga Pertamax agar daya beli masyarakat tetap terjangkau ditengah pandemic yang kemarin melanda Indonesia. Saya secara pribadi maupun organisasi mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh Pertamina,” paparnya.

Hanya saja, lanjut Mamit, kita juga mesti paham bahwa saat ini harga minyak dunia sedang mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Jika Pertamina terus bertahan dengan kondisi saat ini, saya yakin sekali akan membuat keuangan mereka menjadi tertekan mengingat Pertamax merupakan BBM Umum yang tidak mendapatkan kompensasi apa-apa dari Pemerintah.”urai Mamit kembali.

Paris Aggrement

Pemerintah terus berupaya untuk memenuhi komitemen yang di sepakati dalam Paris Aggrement pada 2015 atau COP 21 pada Desember 2015 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan bantuan internasional pada 2030 yang akan datang. 

Salah satu bentuk upaya tersebut adalah diterbitkan Permen LHK No 20 Tahun 2017 tentang Penerapan Bahan Bakar Standar Euro 4. Salah satu bleid dalam Permen tersebut adalah penggunaan BBM dengan minimal RON 91 dan CN 51. Kebijakan ini memang belum berjalan seutuhnya mengingat saat ini konsumsi bbm di Indonesia masih ada yang menggunakan Ron 88 dan Ron 90. 

Halaman:

Editor: anu

Tags

Terkini

Studio Strategis untuk Para Pekerja Kreatif

Jumat, 27 Januari 2023 | 14:32 WIB

Prospek Ekonomi RI Membaik Topang Penguatan Rupiah

Kamis, 26 Januari 2023 | 15:21 WIB

Bank DKI Salurkan KUR Rp1,15 Triliun Sepanjang 2022

Rabu, 25 Januari 2023 | 21:54 WIB
X