PGEO Kabarnya Tunda Ekspansi Gegara Utang Jangka Pendek Rp9,3 T Jatuh Tempo, Benarkah?

- Jumat, 31 Maret 2023 | 23:10 WIB
PT Pertamina Geothermal Energy (Sumber: Instagram)
PT Pertamina Geothermal Energy (Sumber: Instagram)

HARIANTERBIT.com — Emiten energi panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berpeluang menunda ekspansi lantaran terlilit utang sehingga liabilitas membengkak.

Pada 30 September 2022, utang perusahaan mencapai US$1,13 miliar yang didominasi utang bank jangka pendek sebesar US$617,22 juta setara Rp9,3 triliun dengan asumsi kurs Rp15.088 per dolar AS pada 29 Maret 2023.

Utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat tersebut melonjak 292,68% dari posisi Desember 2021. Atas kondisi ini, sejumlah analis menilai PGEO berisiko gagal ekspansi lantaran harus melunasi utangnya.

Baca Juga: Kedodoran di Jateng dan Jatim, Begini Strategi Anies Rebut Suara di Kandang Banteng dan NU

Analis Panin Sekuritas Andhika Audrey mengatakan utang US$617 ini membebani rencana ekspansi PGEO. “Ada perubahan utang jangka panjang PGEO menjadi jangka pendek senilai US$617 juta ini berpotensi menggerus kantong perseroan,” katanya kepada media, Kamis, 30 Maret 2023.

Padahal, anak usaha PT Pertamina (Persero) ini sebelumnya menjanjikan dana hasil penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sebesar Rp9,05 triliun untuk ekspansi wilayah kerja panas bumi (WKP) dan membayar utang. Komposisinya 85% untuk ekspansi WKP dan sisanya untuk bayar utang.

“Namun, berhubung adanya utang jangka pendek yang jatuh tempo, peluang ekspansi untuk pembangunan kapasitas terpasang 600 Megawatt ini berpotensi tertunda,” kata Andhika.

Baca Juga: Safe Deposit Rp 40 Miliar Rafael Alun Trisambodo di Bank Mandiri, Begini Kabarnya

Jika dirinci, total utang bank jangka pendek tersebut terdiri atas pinjaman dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar US$105 juta, MUFG Bank Ltd, Jakarta Branch sebesar US$105 juta dan PT Bank UOB Indonesia juga US$105 juta.

Berikutnya, berasal dari PT Bank HSBC Indonesia sebesar US$82,5 juta, Australia and New Zealand Banking Group Limited Singapore Branch US$75 juta, PT Bank BTPN Tbk (BTPN) senilai US$52,5 juta, Sumitomo Mitsui Banking Corporation Singapore Branch senilai US$52,5 juta dan The Hong Kong and Shanghai Bank Corporation Limited senilai US$22,5 juta.

Mengingat banyaknya kreditur yang teribat dalam utang jangka pendek ini, proses refinancing atau restrukturisasi pun dinilai akan sulit dicapai.

Baca Juga: Soal Artis Inisial R Terkait TPPU Rafael Alun Trisambodo, Begini Penyataan Resmi KPK

Andhika menegaskan, utang jatuh tempo itu bakal menjadi faktor penunda pembangunan kapasitas terpasang sendiri perseroan menjadi 1.200 MW.

Bisnis panas bumi, paparnya, juga merupakan bisnis padat modal dan dengan jangka waktu yang relatif tidak sebentar. “Win rate atau rasio kesuksesan dari pengeboran untuk mendapatkan panas bumi ini masih 50:50.”***

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X