Penyerbaran Covid-19 dan Karantina yang Ketat

Otoritas Ekuador Berjuang Kumpulkan Mayat dari Rumah Warga

Hermansyah
Otoritas Ekuador Berjuang Kumpulkan Mayat dari Rumah Warga
Ilustrasi polisi Ekuador di alun-alun Plaza Grande di Quito

Guayaquil, HanTer - Otoritas Ekuador mengatakan pada hari Senin waktu setempat atau Selasa (31/3/2020) WIB, di mana mereka akan meningkatkan pengumpulan jenazah, karena keterlambatan terkait dengan penyebaran cepat Covid-19, di mana telah membuat keluarga menjaga tubuh orang yang mereka cintai di rumah mereka selama berhari-hari dalam beberapa kasus.

Warga Guayaquil, kota terbesar di Ekuador, mengeluh. Mereka tidak memiliki cara untuk menguburkan kerabatnya karena tindakan karantina yang ketat dan jam malam yang dirancang untuk mencegah penyebaran penyakit. Pekan lalu, pihak berwenang mengatakan mereka telah memindahkan 100 mayat dari rumah-rumah di Guayaquil.

Tetapi keterlambatan dalam pengumpulan mayat di negara Andean, yang telah melaporkan 1.966 kasus Coronavirus dengan 62 kematian, 54 sembuh dan 1,850 dalam masa perawatan, terbukti tengah hari pada hari Senin di pusat kota Guayaquil, di mana mayat seorang lelaki berbaring di trotoar di bawah lembaran plastik biru.

Polisi setempat mengatakan jika pria itu pingsan ketika sedang mengantri untuk memasuki sebuah toko. "Niat pemerintah adalah agar setiap orang yang meninggal hari ini di Guayaquil, bukan hanya mereka yang telah meninggal karena COVID-19, dapat memiliki pemakaman yang bermartabat," kata Wakil Presiden Otto Sonnenholzner kepada wartawan, kemarin.

Pihak berwenang juga mengumumkan bahwa mereka akan membentuk satuan tugas untuk mengumpulkan dan menguburkan orang mati. Penerbangan darurat kemanusiaan ditangguhkan untuk warga Ekuador yang telah terdampar di luar negeri karena pembatasan perjalanan dan berusaha untuk kembali ke negara itu.

Lebih dari 70 persen kasus Covid-19 negara itu , yang merupakan salah satu penghitungan tertinggi di Amerika Latin, berada di provinsi selatan Guayas, tempat Guayaquil berada.

Luiggi Ponce, 22 tahun yang tinggal di daerah kelas pekerja di kota itu, yakin pamannya, yang meninggal empat hari lalu, terinfeksi. Mayatnya masih berada di rumahnya, tempat lima anak dan tujuh orang dewasa itu tinggal. "Dia menderita radang paru-paru, dia demam, dia tidak bisa bernapas, dia memiliki semua gejala. Tubuh dibungkus plastik. Seluruh rumah berbau tidak sedap," kata Ponce.

Media lokal telah menyiarkan gambar di luar kuburan di Guayaquil tentang orang yang mencari penguburan untuk kerabat yang sudah meninggal.

Sebastian Barahona, koordinator National Federation of Funeral Homes, mengatakan Guayaquil melihat kematian sekitar lima kali lebih banyak pada bulan Maret daripada bulan normal. "Kapasitas respons tidak siap untuk apa yang dibutuhkan darurat ini," kata Barahona. 

#Covid-19   #Ekuador   #