Rouhani:Jumlah Pemilih Yang Tinggi Akan Membuat AS Marah

Hermansyah
Rouhani:Jumlah Pemilih Yang Tinggi Akan Membuat AS Marah
Presiden Iran Hassan Rouhani

Teheran, HanTer - Partisipasi rakyat yang inklusif dan antusias dalam pemilihan parlemen pada Jumat pekan ini akan membuat marah Amerika Serikat. Hal tersebut diungkapkan Presiden Iran Hassan Rouhani yang juga menekankan terjadinya peran penting majelis legislatif dalam memajukan upaya pemerintah untuk menggagalkan sanksi Washington.

Iran dapat menang atas kampanye tekanan Amerika Serikat melalui ketekunan dan kekuatan. Presiden Rouhani mengatakan pada sesi kabinet di Teheran pada hari Rabu (19/2/2020).

"Orang-orang yang membentuk antrian panjang di tempat pemungutan suara, meruakan sesuatu yang akan membuat marah AS," kata presiden, seraya menambahkan bahwa Washington akan senang melihat jumlah pemilih yang rendah.

Iran akan mengadakan pemilihan pada 21 Februari mendatang untuk menunjuk anggota parlemen ke Majelis 11 (Parlemen) ke-11 sejak Revolusi Islam 1979.

Lebih dari 7.000 kandidat bersaing dalam pemilihan untuk 290 kursi yang tersedia, lima di antaranya mewakili minoritas agama.

Rouhani menyebut Majlis sebagai alat signifikan karena akan mengeluarkan undang-undang yang bisa bertahan selama beberapa dekade, sehingga mempengaruhi masa depan negara itu.

Pemilihan tahun ini memberikan makna tambahan mengingat fakta bahwa Iran telah dikenai sanksi dan tekanan kuat oleh kekuatan arogan dunia, presiden menyatakan, menambahkan bahwa jumlah pemilih yang tinggi dapat mencerminkan sikap rakyat terhadap kekuatan-kekuatan ini.

Rouhani menyebut sanksi itu, yang menurutnya "tindakan teroris Amerika" terhadap rakyat Iran, dan menambahkan bahwa para pejabat Amerika saat ini telah berani dalam upaya mereka untuk menekan Iran dengan dukungan rezim Israel dan negara-negara reaksioner di kawasan itu.

Rouhani memberikan jaminan bahwa sanksi yang tidak adil dapat dipatahkan seperti yang telah dibuktikan di masa lalu.

Jumlah pemilih yang tinggi, Rouhani mencatat, akan mengamanatkan parlemen untuk bergabung dengan pemerintah dan peradilan dalam upaya untuk mengalahkan larangan AS dan menyelesaikan masalah domestik.

"Kita semua harus berdiri berdampingan satu sama lain. Kita harus menyelesaikan masalah bersama. Hari itu ketika AS putus asa, tekanan maksimumnya tidak akan berpengaruh. Itu akan menyerah, datang ke meja negosiasi, dan menerima firman kebenaran," ucapnya.

"Tekanan maksimum" adalah istilah yang diberikan oleh Presiden AS Donald Trump untuk kampanye peningkatan permusuhan terhadap Republik Islam.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Trump menarik AS dari perjanjian nuklir bersejarah dengan Iran dan lainnya pada 2018. Kepergian itu diikuti oleh pemulihan sanksi kejam yang menargetkan berbagai sektor ekonomi.