Haftar Tinggalkan Moskow Tanpa Menandatangani Perjanjian Damai

Hermansyah
Haftar Tinggalkan Moskow Tanpa Menandatangani Perjanjian Damai
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu berjabatan tangan dengan komandan pemberontak Libya Khalifa Haftar, di Moskow, Rusia.

Moskow, HanTer - Upaya untuk menengahi gencatan senjata antara pihak-pihak dalam konflik Libya telah gagal di Rusia. Moskow telah mengkonfirmasi, kepala pasukan pemberontak di Libya meninggalkan Rusia tanpa perjanjian damai.

Rusia dan Turki telah berusaha keras untuk menghentikan pertempuran antara pemerintah Libya dan milisi pemberontak di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar.

Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj dan Haftar mengadakan sekitar delapan jam perundingan langsung yang dimediasi oleh Moskow dan Ankara di ibukota Rusia pada Senin (13/1/2020).

Pada hari Selasa (14/1/2020), Kementerian Luar Negeri Rusia mengkonfirmasi, bahwa, meskipun telah membuat kesepakatan, Haftar telah pergi tanpa menandatangani kesepakatan perjanjian damai.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova mengatakan Haftar pada Senin malam meminta hingga Selasa pagi untuk memeriksa perjanjian yang sebelumnya sudah ditandatangani oleh Sarraj - tetapi meninggalkan ibukota Rusia tanpa menandatanganinya.

Pada hari Sabtu, kedua pihak telah sepakat untuk gencatan senjata yang ditengahi oleh Turki dan Rusia. Tetapi perjanjian itu terurai, setelah waktu pelaksanaan, karena kedua belah pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata. Rusia pun memiliki komitmen akan terus mendorong gencatan senjata terjadi di Libya.

Mengomentari kepergian Haftar, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pada hari Selasa bahwa Moskow akan terus mendorong perjanjian gencatan senjata di Libya.

“Kami akan mengejar upaya ke arah gencatan senjata dan damai. Namun untuk saat ini, hasil yang pasti belum tercapai,” katanya pada konferensi pers di Kolombo.

Sejak 2014, Libya telah dibagi antara dua kubu saingan, yakni pemerintah di Tripoli dan sebuah kamp yang berbasis di kota Tobruk di timur negara itu.

Haftar, yang didukung oleh Mesir, Rusia, Uni Emirat Arab, dan Yordania, adalah komandan yang memproklamirkan diri dari berbagai kelompok milisi yang tampaknya mendukung kamp timur.

Dia melancarkan serangan untuk menguasai Tripoli dan menggulingkan pemerintah pada bulan April tahun lalu. Pasukannya telah dipukul mundur di dekat ibukota, namun ia berjanji untuk melanjutkan misinya.

Pemerintah telah meminta bantuan dari sekutu Turki, yang telah mengerahkan pasukan ke Libya bahkan ketika telah terlibat dalam upaya perdamaian dengan Rusia.

Sementara itu, Jerman akan mengadakan pertemuan puncak pada 19 Januari yang bertujuan mempromosikan perdamaian di Libya, yang merupakan landasan bagi para pengungsi ke Eropa. Hermansyah