• Sabtu, 1 Oktober 2022

Bentuk Genosida Hilangkan Ukraina, Pepi Aprianti Utami Jadi Saksi Kebrutalan Tentara Rusia

- Kamis, 15 September 2022 | 13:14 WIB
Pepi Aprianti Utami, seniman kriya alumni Fakultas Seni Rupa Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) (dok)
Pepi Aprianti Utami, seniman kriya alumni Fakultas Seni Rupa Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) (dok)


HARIANTERBIT.com – Sejauh ini korban jiwa masyarakat sipil akibat penjajahan Rusia terhadap Ukraina dipercaya lebih besar dari data resmi karena inventarisasi dilakukan dalam kondisi kepanikan akibat upaya genosida yang dilakukan secara sistematis.

Pengakuan mengejutkan tersebut diungkapkan warga negara Indonesia (WNI), Pepi Aprianti Utami, seorang seniman kriya alumni Fakultas Seni Rupa Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sejak tahun 2013 berdomisili di Kyiv, Ukraina

“Menurut saya ini lebih dari penjajahan, ini adalah bentuk dari Genosida. Rusia ingin menghilangkan Ukraina dari peta dunia dan hal ini disampaikan sendiri oleh pemerintah rusia, mereka ingin menghapus identitas orang Ukraina,” tuturnya, seperti keterangan tertulis, Kamis (15/9/2022).

Baca Juga: Gelar Pengenalan Kehidupan Kampus, Kompetensi Jadi Ciri Khas Politeknik LP3IPepi menuturkan selain melakukan pembantaian dan penculikan terhadap warga sipil Ukraina, tentara Rusia juga secara sengaja menghancurkan ingatan terhadap budaya dengan membakar perpustakaan, sekolah dan museum di Ukraina.

Pepi memilih bertahan di Ukraina karena salah satunya memiliki keluarg, teman-teman, dan juga pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan jika dirinya keluar dari wilayah Ukraina. Oleh sebab itu dia memilih relokasi ke kota yang lebih aman.

Sebelum terjadi serangan oleh Rusia, Ukraina adalah negara yang aman dan orang-orang pergi bekerja dan beraktifitas lancar, perekonomian dan pembangunan terus berkembang selayaknya sebuah negara berdaulat.

Kondisi itu berubah setelah 24 februari 2022 ketika Rusia melakukan serangan. Bunyi sirine peringatan serangan udara menjadi suara yang traumatis sehingga warga harus mengungsi ke daerah yang lebih aman.

“Banyak bangunan runtuh kena rudal. Tak sedikit korban jiwa sipil. Semua panik. Rumah saya dibobol dan dirusak oleh tentara Rusia, mereka bersembunyi dan menyimpan amunisi nya di sekitar pekarangan rumah saya,” tuturnya.Baca Juga: Karolina Bielawska Dukung 37 Finalis Miss Indonesia 2022

Pada awal invasi Pepi memutuskan untuk berlindung di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kyiv yang kemudian dengan dibantu secara penuh oleh KBRI untuk relokasi ke kota Vinnytsia yang relative aman dari serbuan tentara Rusia maupun serangan rudal.

Di tempat dia berlindung juga tersedia ruang bawah tanah yang layak menjadi tempat perlindungan ketika bombardemen terjadi (bom shelter). Sehingga setiap terdengar suara peringatan serangan udara berbunyi maka Pepi dan penghuni yang lain bergegas turun ke shelter untuk berlindung.

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Terkini

3 Peraturan Unik di Jepang Bikin Geleng Kepala

Selasa, 27 September 2022 | 20:07 WIB

Pemakaman Kenegaraan Ratu Elizabeth 19 September

Minggu, 11 September 2022 | 08:17 WIB
X