• Jumat, 9 Desember 2022

Kemenangan Bersejarah dan Peristiwa Seismik Partai Le Pen Dipemilihan Parlemen Prancis

- Senin, 20 Juni 2022 | 20:01 WIB
Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen
Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen

Jakarta, HanTer - Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen menyebut bahwa lonjakan luar biasa partainya dalam pemilihan parlemen negara itu adalah "kemenangan bersejarah" dan "peristiwa seismik" dalam politik Prancis.

Banyak pemilih dalam jajak pendapat hari Minggu lalu memilih kandidat sayap kanan atau sayap kiri, meninggalkan aliansi sentris Presiden Emmanuel Macron sebagai mayoritas langsung di Majelis Nasional.

Partai Rassemblement National yang dipimpin Marine Le Pen mendapat 89 kursi di parlemen yang beranggotakan 577 orang, naik dari total delapan kursi sebelumnya. Di sisi lain spektrum politik, koalisi sayap kiri Nupes, yang dipimpin oleh garis keras Jean-Luc Melenchon, memenangkan 131 kursi untuk menjadi kekuatan oposisi utama.

Aliansi tengah Macron memenangkan kursi terbanyak yakni 245, tetapi tetapi kehilangan 44 kursi dari mayoritas langsung di Majelis Nasional, majelis parlemen paling kuat di Prancis.

Hasil pemilihan legislatif sangat tidak biasa di Prancis dan kinerja kuat dari partai Rassemblement National Le Pen dan koalisi Melenchon yang terdiri dari partai kiri-kerasnya sendiri, France Unbowed, Sosialis, Hijau, dan Komunis, akan mempersulit Macron untuk mengimplementasikan agenda yang dipilihnya kembali pada Mei, termasuk pemotongan pajak dan menaikkan usia pensiun Prancis dari 62 menjadi 65.

“Macron adalah presiden minoritas sekarang. Rencana reformasi pensiunnya terkubur. Ini adalah kemenangan bersejarah, peristiwa seismik,” tutur Le Pen pada hari Senin (20/6/2022) di Hénin-Beaumont, bentengnya di Prancis utara, di mana dia terpilih kembali untuk masa jabatan lima tahun lagi di parlemen.

"Kami memasuki parlemen sebagai kelompok yang sangat kuat dan karena itu kami akan mengklaim setiap pos milik kami," tambahnya.

Sebagai partai tunggal terbesar di parlemendia mengatakan partai Rassemblement National akan berusaha untuk memimpin komite keuangan parlemen yang kuat, salah satu dari delapan komisi yang mengawasi anggaran nasional.

Partai sayap kanan Le Pen sekarang memiliki jumlah legislator yang cukup untuk membentuk kelompok formal di Majelis Nasional dan meminta kursi di komite lain, termasuk komite investigasi parlemen dan mereka yang berfokus pada pertahanan dan kebijakan luar negeri.

Selain itu, partai Rassemblement National sekarang memiliki cukup kursi yakni lebih dari 58 untuk memicu mosi kecaman terhadap pemerintah yang dapat menyebabkan mosi tidak percaya.

Perdana Menteri Elisabeth Borne menyarankan pada Minggu malam bahwa aliansi Macron akan berusaha menemukan "kompromi yang baik" dengan anggota parlemen dari berbagai kekuatan politik.

Macron sendiri belum mengomentari hasil pemilu. Pemerintahannya masih akan memiliki kemampuan untuk memerintah, tetapi hanya dengan tawar-menawar dengan legislator.

Kaum sentris dapat mencoba bernegosiasi berdasarkan kasus per kasus dengan anggota parlemen dari kiri tengah dan dari partai konservatif dengan tujuan mencegah anggota parlemen oposisi menjadi cukup banyak untuk menolak langkah-langkah yang diusulkan.

Pemerintah juga dapat menggunakan tindakan khusus yang disediakan oleh Konstitusi Prancis untuk mengadopsi undang-undang tanpa pemungutan suara.

Situasi serupa terjadi pada tahun 1988 di bawah Presiden Sosialis Francois Mitterrand, yang kemudian harus mencari dukungan dari Komunis atau sentris untuk mengesahkan undang-undang.

Pemilihan parlemen terbaru sekali lagi sebagian besar telah ditentukan oleh apatis pemilih - dengan lebih dari setengah pemilih tinggal di rumah. “Saya bahkan tidak tahu siapa yang berlari,” kata Lucie Gault, seorang mahasiswa kedokteran berusia 20 tahun di Paris. Dia tidak tertarik pada kampanye pemilihan dan tidak memberikan suara pada hari Minggu.

"Saya tidak mengikutinya dan bahkan jika saya memilih, saya bahkan tidak tahu apa yang saya pilih," kata Gault.

Aurélie Cruvilier, seorang karyawan bank di ibukota Prancis mengatakan hasil pemungutan suara hari Minggu membingungkan karena "kami memilih kandidat yang tidak kami sukai ketika kami mungkin harus memilih ide atau setidaknya masalah penting."

Editor: Hermansyah Terbit

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Iran Resmikan Pembangunan PLTN Kapasitas 300 Megawat

Minggu, 4 Desember 2022 | 09:59 WIB

AS Disebut Biarkan Eropa Tanggung Konsekuensi Krisis

Sabtu, 3 Desember 2022 | 15:18 WIB

Elon Musk Pasang Foto Pemakaman, #RIPTwitter Trending

Jumat, 18 November 2022 | 13:04 WIB
X