• Rabu, 28 September 2022

Pentagon Minta Maaf dan Menyebut Serangan Kabul yang Mematikan 10 Warga Sipil Sebagai Kesalahan

- Sabtu, 18 September 2021 | 12:30 WIB
Keluarga Ahmadi berdoa di pemakaman di sebelah makam keluarga anggota keluarga yang terbunuh oleh serangan pesawat tak berawak AS, di Kabul, 13 September 2021.
Keluarga Ahmadi berdoa di pemakaman di sebelah makam keluarga anggota keluarga yang terbunuh oleh serangan pesawat tak berawak AS, di Kabul, 13 September 2021.

Jakarta, HanTer - Pentagon telah mundur dari pertahanannya terhadap serangan pesawat tak berawak yang menewaskan banyak warga sipil di Afghanistan pada bulan lalu, mengumumkan bahwa tinjauan mengungkapkan bahwa hanya warga sipil yang tewas dalam serangan itu, bukan teroris seperti yang diyakini pertama kali.

“Serangan itu adalah kesalahan yang tragis,” Jenderal Marinir Frank McKenzie, kepala Komando Pusat AS, mengatakan pada konferensi pers Pentagon Jumat waktu setempat, atau Sabtu (18/9/2021) WIB.

McKenzie meminta maaf atas kesalahan tersebut dan mengatakan Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk melakukan pembayaran ganti rugi kepada keluarga para korban.

Dia mengatakan keputusan untuk menyerang sedan Toyota Corolla putih, setelah melacaknya selama sekitar delapan jam, dibuat dengan "keyakinan yang sungguh-sungguh", berdasarkan standar "kepastian yang masuk akal", bahwa itu merupakan ancaman nyata bagi pasukan Amerika di Bandara Kabul. "Mobil itu diyakini membawa bahan peledak di bagasinya," katanya.

Selama berhari-hari setelah serangan 29 Agustus, pejabat Pentagon menegaskan bahwa itu telah dilakukan dengan benar, meskipun 10 warga sipil tewas, termasuk tujuh anak-anak diantaranya.

Organisasi berita kemudian meragukan versi kejadian tersebut, melaporkan bahwa pengemudi kendaraan yang ditargetkan adalah karyawan lama di sebuah organisasi kemanusiaan Amerika dan mengutip tidak adanya bukti untuk mendukung pernyataan Pentagon bahwa kendaraan tersebut mengandung bahan peledak.

Serangan udara itu adalah yang terakhir dari perang AS yang berakhir seperti yang dimulai pada 2001 - dengan Taliban berkuasa di Kabul. Kecepatan Taliban menguasai negara itu mengejutkan pemerintah AS dan memaksanya untuk mengirim beberapa ribu tentara ke bandara Kabul untuk evakuasi cepat orang Amerika, Afghanistan, dan lainnya.

Evakuasi, yang dimulai 14 Agustus, berlangsung di bawah ancaman serangan yang hampir terus-menerus oleh afiliasi kelompok ISIS di Afghanistan.

McKenzie, yang mengawasi operasi militer AS di Afghanistan, termasuk evakuasi terakhir pasukan AS dan lebih dari 120.000 warga sipil dari bandara Kabul, menyatakan belasungkawa kepada keluarga dan teman-teman mereka yang tewas.

Halaman:

Editor: Hermansyah

Tags

Terkini

3 Peraturan Unik di Jepang Bikin Geleng Kepala

Selasa, 27 September 2022 | 20:07 WIB

Pemakaman Kenegaraan Ratu Elizabeth 19 September

Minggu, 11 September 2022 | 08:17 WIB
X