Di Publish Pada Tanggal : Senin, 29 Januari 2018 19:15 WIB

Menpora: Atlet Tenis Meja Diadu Saja, yang Menang Wakili Indonesia di Asian Games 2018

Jakarta, HanTer - Kepengurusan cabor tenis meja tengah mengalami dualisme kepemimpinan, meski saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Namun untuk mensukseskan prestasi cabor tersebut dipentas Asian Games 2018, Menpora Imam Nahrawi mendorong agar para atlet dari dua kubu di adu keahliannya dan pemenangnya masuk dalam pelatnas Asian Games 2018.
 
"Dari pada ribut, mending tandingkan saja diantara mereka, yang menang layak masuk pelatnas wakili Indonesia untuk Asian Games 2018, kan ukurannya jelas kalau seperti itu," tegas Menpora Imam Nahrawi, Senin (29/1/2018).
 
Hal tersebut sebelumnya didasari atas protes yang dilakukan oleh Pengurus Provinsi Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (Pengprov PTMSI) Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang menilai adanya kejanggalan dalam status atlet yang dipanggil untuk pelatnas, terlebih pihaknya melihat belum mencerminkan kekuatan terbaik Indonesia.
 
Protes tersebut disampaikan oleh Ketua Pengprov PTMSI DKI Jakarta Arifin Thahir kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/1/2018), yang mengatakan pihaknya melihat banyak kejanggalan dari segi prestasi maupun administrasi terhadap atlet tenis meja yang dipanggil pelatnas Asian Games 2018.
 
Arifin juga menuturkan jika atlet DKI yang dipanggil bukan yang terbaik. Menurutnya, mereka tidak pernah muncul dalam kejuaraan resmi maupun Pekan Olahraga Nasional (PON) terakhir tahun 2016 di Jawa Barat. Padahal menurutnya banyak atlet-atlet Jakarta yang prestasinya jauh lebih baik dan merupakan peraih medali emas PON namun tidak dipanggil.
 
"Atlet yang dipanggil bukanlah yang terbaik di Indonesia sekarang. Kemudian ada atlet yang bukan dari Jakarta tapi didaftarkan atas nama Jakarta. Hal ini selain merugikan atlet yang prestasinya lebih baik, juga bisa mengaburkan dalam pertanggungjawaban masalah administrasi maupun anggaran yang menjadi wewenang Kementrian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora) pimpinan Menpora Imam Nahrawi," ungkap Arifin.
 
“Memang sesuai dengan hirarki organisasi seharusnya kami mengadu ke KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) DKI Jakarta atau ke PB (Pengurus Besar) PTMSI soal ini. Namun karena sudah gawat maka kami langsung meminta kepada Menpora agar pemanggilan atlet tenis meja untuk persiapan Asian Games 2018 dikaji ulang," tambahnya.
 
Dia pun mengklaim, jika dari atlet yang dipanggil, hanya Vicky Supit yang mumupuni dari prestasi. Sedangkan yang lainnya pantas dipertanyakan. Dia juga terheran pemain-pemain terbaik Jakarta dengan berbagai gelar juara termasuk juara umum PON tidak masuk. Lebih heran lagi ada atlet yang belum pernah memperkuat Jakarta didaftarkan atas nama Jakarta. Meski demikian, dia menolak menyebutkan nama atlet tersebut.
 
Arifin menilai, dengan pemanggilan yang tidak menghargai prestasi atlet bukan saja Jakarta yang dirugikan. Ada juga pengprov lain yang atlet terbaiknya tidak masuk. Untuk DKI disebutkan, pemain sekelas David Yacobs, Rocky Christophel, Bagus Aji Saputra, Ronald K untuk putra dan Stella Friska Palit, Mira Fitria, Rina Sintya dan Desi Ramadanti di bagian putri yang berjaya di PON sama sekali tidak dipanggil. 


(Hermansyah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats