Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 15 Juli 2017 11:50 WIB
Gowes Pesona Nusantara 2017

Semangat Ratusan Peserta GPN Ambon Tak Surut Diterpa Hujan

Ambon, HanTer - Ratusan peserta yang meramaikan Gowes Pesona Nusantara (GPN) di Ambon, Maluku tetap antusias meskipun mendapat guyuran hujan yang cukup lebat, Sabtu (15/7/2017).

Sebanyak 500-an peserta Gowes Pesona Nusantara tetap melaju untuk mengayuhkan sepedanya, dalam menyukseskan program yang menjadi rangkaian gerakan `Ayo Olahraga` gagasan Kemenpora.

Wakil Wali Kota Ambon, Syarif Hadler membuka acara yang dimulai dengan senam bersama, sekaligus mengibarkan bendera start di Tugu Leimena. Ratusan peserta GPN 2017 tampak bersemangat dengan berteriak selepas bendera hitam putih itu diangkat.

Syarif mengaku senang dengan antusias warganya dalam acara ini. "Alhamdulillah, saya menyampaikan terima kasih kepada Menpora atas kepercayaannya menjadikan Ambon sebagai tuan rumah penyelenggaraan GPN 2017," tuturnya.

Menurut dia, bersepeda adalah cara sehat yang murah meriah, tak banyak membutuhkan biaya. Namun dampaknya sangat luar biasa. Masyarakat dari semua kalangan di Ambon bisa menyatu dalam aktivitas menyenangkan ini, tanpa membedakan agama dan latar belakangnya.

Acara seperti ini, lanjutnya, harus terus digalakkan secara berkelanjutan. Salah satunya dengan mengembangkan komunitas sepeda dan membidik generasi muda.

Syarif mengatakan, kegiatan positif seperti bersepeda otomatis akan menekan dan bahkan menghilangkan hal-hal negatif. Narkoba, minuman keras, tawuran dan berbagai aktivitas tidak sehat lainnya, kata dia, akan hilang dengan sendirinya jika seseorang mengisi waktunya dengan kegiatan positif seperti olahraga.

"Generasi muda adalah penerus perjuangan bangsa ini dan kita harus terus pelihara mereka dengan baik," ujar dia.

Selain itu, GPN 2017 di Kota Ambon juga menjadi ajang promosi wisata bagi kota di Provinsi Maluku ini. Tak sedikit lokasi wisata menarik di kota ini yang mampu menggaet wisatawan untuk datang. Tahun 2020, kata dia, Ambon direncanakan akan menjadi tahun kunjungan wisata.

"Tentu ini menjadi pusat pariwisata kalau kita kelola secara baik, dan Gowes Pesona Nusantara 2017 ini menjadi bagian dari promosi pariwisata kita," katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi Sekretariat Kemenpora Samsudin mengatakan, GPN 2017 merupakan terjemahan dari RPJMN dalam upaya menarik dan menambah jumlah masyarakat yang terlibat dalam berolahraga.

Dengan bersepeda, menurutnya, masyarakat akan semakin senang dalam berolahraga. "Ini (bersepeda) adalah olahraganya masyarakat Indonesia," ujar dia.

Samsudin menambahkan, GPN juga memperkenalkan potensi-potensi wisata daerah. Ia berharap, pemuda, olahraga dan pariwisata satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Program ini dinilai perlu didukung dan terus ditingkatkan kualitasnya di tahun-tahun mendatang. Ia meminta Kota Ambon meneruskan kegiatan-kegiatan seperti GPN dengan kemasan-kemasan kedaerahan.

"Mudah-mudahan dengan kegiatan GPN tahun ini tidak ditinggalkan begitu saja. Sehingga, meski pada 2018 kita tidak singgah di Maluku atau Ambon, Gowes Nusantara tetap bergelora di Kota Ambon ini," katanya.

Gowes Pesona Nusantara dilaksanakan Kemenpora untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia agar sehat, bugar dan berkarakter melalui olahraga. Selain itu, bagian terpenting dari acara ini selain berolahraga adalah mempertebal nasionalisme dan rasa cinta terhadap Tanah Air.

Hal itu ditunjukkan dengan adanya satu prosesi sakral dalam hajatan ini, yakni pengambilan tanah dan air di setiap daerah. Tanah dan air dari 90 kabupaten/kota yang disinggahi GPN 2017 nantinya dikumpulkan di Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah untuk dijadikan Monumen Kebangsaan pada Hari Olahraga Nasional 9 September mendatang.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Ambon Morits R. Lantu mengatakan, tanah dan air dari Kota Ambon untuk sementara menggunakan duplikat. Yang asli nanti dikirim langsung ke Magelang.

Pengambilan tanah dan air di Ambon, kata dia, memang tak bisa dilakukan oleh orang selain tetua adat. Tanah dan air diambil khusus dari Desa Soya, sebuah daerah yang dipercaya sebagai kerajaan tertua di Jazirah Leitimor.

"Karena itu sakral. Tanah dan air itu yang menghidupkan Kota Ambon. Yang mengantar nanti juga harus orang adat, kita mendampingi," ujar dia.


(Eka)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats