Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 19 Mei 2018 08:01 WIB

Menkeu dan BI Mulai Khawatir Pergerakan Rupiah

Jakarta, HanTer - Pemerintah bersama dengan Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih terpengaruh oleh tekanan eksternal akibat normalisasi kebijakan moneter di AS.
 
"Kita dan BI terus mencermati perkembangan yang terjadi dengan mata uang dolar AS, terutama yang memang akan terus mengalami pergerakan di dalam konteks normalisasi kebijakan di AS," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Jumat (18/5/2018).
 
Untuk meredam gejolak tersebut, Sri Mulyani memastikan pemerintah akan menjaga pondasi ekonomi Indonesia dari sisi APBN agar kepercayaan para pelaku pasar tidak tergerus oleh tekanan global yang juga disebabkan oleh perkembangan geopolitik.
 
"Hasil dan kinerja sampai Mei menunjukan APBN baik dari sisi pendapatan yaitu perpajakan dan PNBP yang meningkat sangat signifikan dan belanja negara tetap terjaga dan defisit terus dijaga sesuai UU APBN," ujarnya.
 
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga menyakini bank sentral telah mempunyai bauran kebijakan dari sisi moneter yang disiapkan untuk menjaga stabilitas perekonomian.
 
"Kami bersama-sama akan menjaga perekonomian Indonesia karena ketidakpastian yang berasal dari `policy` AS, baik itu ekonomi maupun di bidang geopolitik, pasti mempengaruhi harga minyak, suku bunga global, maupun mata uang," katanya dikutip Antara.
 
Melalui upaya koordinasi tersebut, Sri Mulyani mengharapkan pondasi ekonomi nasional makin kuat dan kinerja pembangunan tidak terganggu, meski saat ini sedang terjadi gejolak nilai tukar di pasar finansial.
 
Sebelumnya, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat sore bergerak melemah sebesar 99 poin menjadi Rp14.144 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.045 per dolar AS.
 
Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, juga ditutup melemah sebesar 32,61 poin karena terpengaruh sentimen negatif dari pergerakan rupiah.
 
"Mata uang rupiah yang melemah menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi IHSG kembali berada dalam area negatif," ujar Analis Teknikal Panin Sekuritas William Hartanto.
 
IHSG BEI ditutup melemah 32,61 poin atau 0,56 persen menjadi 5.783,31, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 8,01 poin (0,86 persen) menjadi 918,89.?
 
Ia mengatakan nilai tukar rupiah yang masih berada di atas level Rp14.000 per dolar AS ini di luar ekspektasi pelaku pasar, karena sebelumnya BI telah memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan.
 

(Anugrah)


comments powered by Disqus