Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 15 Februari 2018 16:07 WIB

Moeldoko Serius Kembangkan Bus Listrik Karya Anak Bangsa

Jakarta, HanTer - Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) Moeldoko akhirnya bisa menyalurkan hasrat otomotifnya. Kini yang disasar adalah tranportasi massal berupa bus listrik. Bus bertenaga listrik dari PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang dinamakan Maxvel ini menurut Moeldoko pantas untuk dibanggakan.

Gambaran bus ini, Maxvel tidak menggunakan mesin konvensional seperti bus-bus pada umumnya di Indonesia. Kendaraan komersial yang masih dalam tahap pengembangan itu ternyata bertenaga listrik murni. Bus dengan panjang sekitar 12 meter ini disebut-sebut lebih canggih daripada bus-bus yang dipasarkan di dalam negeri.

Moeldoko mengaku, dirinya sengaja secara khusus mengembangkan bus listrik ini di dalam negeri. Dia mengklaim bus tersebut kualitasnya tidak kalah dengan bus-bus bertenaga listrik lainnya seperti di Eropa.

"Ini adalah transportasi massal karya anak bangsa yang patut dibanggakan. Bus ini akan dipamerkan di Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2018, di Serpong, Banten mulai 1-4 Maret 2018 mendatang," ujar Moeldoko, Kamis (15/2/2018).

Dijelaskan Moeldoko, bus listrik ini memiliki tenaga setara 260 hp dan melontarkan torsi maksimal sebesar 2.400 nm. ahkan, kandungan komponen lokal bus tersebut ternyata sudah mencapai sekitar 60 persen berdasarkan chassis, interior sampai bodi yang sudah dilokalkan. Namun Moeldoko terus berusaha meningkatkan kandungan lokal bus Maxvel seiring bertambahnya kapasitas produksi.

"Jadi kalau kami hitung-hitung berapa persen dari total lokal konten MAB, ya kurang lebih 60 persen lokal konten. Dalam pengembangan ke depan, kami belum bermitra tetapi brainstorming sudah mulai beberapa perusahaan asing mendekat ke kami. Di antaranya dari Jerman, mereka juga ingin mass produksinya di Indonesia. Di antaranya seperti pengembangan suspensi, steering system, brake system," jelas Moeldoko.

Dijelaskan Meoldoko, sejauh ini sudah ada sejumlah perusahaan asing yang tertarik mengajukan kerjasama dengan PT MAB. Untuk saat ini baterai pada bus tersebut masih buatan para teknisi dari MAB. Namun ke depan, MAB ingin bekerjasama dengan perusahaan pembuat baterai dari negara lain seperti Korea, Australia, Jepang hingga Eropa.

"Kami kemarin empat hari berdiskusi dengan pihak mereka. Mudah-mudahan nanti kami bisa kerjasama dengan mereka. Berikutnya dari Korea Selatan, kemarin saya terima sendiri. Pengembangan ke depan untuk baterai kontrol, berikut baterai dan interior. Lalu charging baterai yang lebih cepat lagi," jelas Moeldoko.

Dalam hal ini, pihak MAB akan mencari perusahaan baterai yang bisa memasok kebutuhan bus hasil anak bangsa MAB. Adapun kriterianya yang diinginkan, meliputi kapasitas baterai, kekuatan jarak tempuh, durasi pengisian baterai hingga daya tahan baterai.

"Mereka sedang mencari perusahaan baterai paling cocok. Paling baik dulu (untuk diajak kerjasama). Saat ini baterai baru bikin sendiri," ungkap Moeldoko.

Menurut Moeldoko, kekurangannya adalah lamanya pengisian daya baterai dari kosong hingga penuh yang memakan waktu dua sampai tiga jam. Meoldoko yakin cara tersebut masih bisa dipercepat dengan perangkat fast charging.

"Kami sekarang masih dua setengah jam ya (sekali pengisian). Tapi itu bisa jalan kurang lebih sejauh 250-300 km. Ke depan harus lebih cepat proses pengisian daya listriknya," harap Moeldoko.

Moeldoko terlihat serius mengembangkan kendaraan listrik tersebut demi segera terealisasi mobil listrik nasional karya anak bangsa. Selanjutnya, sebagai bentuk apresiasi, Moeldoko membuat sebuah progam yang memberikan hak saham kepada karyawan yang berkontribusi terhadap bus listrik tersebut.

"Saya harapkan (bus listrik) nanti itu menjadi miliknya anak bangsa. Makanya saya akan share (bagikan) lima persen (saham) akan saya berikan kepada anak Indonesia siapa pun yang bisa berkontribusi atas pengembangan mobil listrik ke depan. Mungkin bisa dari desain, lalu hal lain. Banyak yang bisa dikembangkan, dari suspensi, steering sistemnya dan lainnya. Lalu kelistrikan juga. Masih banyak yang diperlukan keterlibatan anak-anak kita ini," pungkas Moeldoko.

(Hermansyah )


comments powered by Disqus