Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 05 Oktober 2017 10:17 WIB

Ekonomi Dibawah 6%: Pendapatan Rendah, Indonesia Terlalu Banyak Libur Kapan Majunya

Jakarta, Hanter - Indonesia terlalu banyak libur, padahal ekonomi masih dibawah 6%, pendapatan dan produktifitas masih rendah. Padahal, bukan libur yang diperbanyak tapi menggenjot pertumbuhan, pendapatan, dan produktifitas.

Pengamat kebijakan publik Ferdinand Hutahaean mengatakan, salah satu kesalahan kebijakan pemerintah adalah dengan memperbanyak hari libur. Harapannya dengan hari libur adalah peningkatan wisatawan. Teori itu mungkin benar jika ekonomi tumbuh baik.

“Masalahnya sekarang ekonomi sedang tidak tumbuh, pendapatan rakyat sedang rendah, beban kebutuhan rakyat meningkat sebagai akibat dari pencabutan subsidi listrik, akhirnya harapan peningkatan perputaran ekonomi dari sektor wisata tidak tercapai. Inilah kesalahan pemerintah dalam menganalisis,” ujar Ferdinand kepada Harian Terbit, Rabu (4/10/2017).

Menurut Direktur EWI ini, mestinya ditengah ekonomi yang sedang rendah, bukan libur yang harus dibanyakin tapi kerja yang lebih banyak agar lebih produktif. Industri bergerak dan ekonomi bergerak, bukan malah meliburkan yamg membuat ekonomi makin stagnan,” ujar Ferdinand.

Cerita Rizal Ramli

Terkait Indonesia terlalu banyak libur ini suatu waktu mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli bilang, “Indonesia terlalu banyak libur".  

Tak lama kemudian, Rizal Ramli melanjutkan ceritanya.  "Saya mengaku salah". Sontak saya menjadi bertanya-tanya dalam hati.

"Sepuluh tahunan lalu, saya makan dengan seorang pejabat tinggi. Saya bercerita kalau baru aja selesai baca buku tentang bagaimana PM Zho Rong Ji genjot ekonomi China tumbuh menjadi double digit.".

"Dia (baca : pejabat tinggi) tertarik ingin baca bukunya. Saya bilang, kalau baca buku bagus, saya biasa garis bawahi. Pada Chapter 5 yang ulas tentang Holiday Economics, mengungkapkan bahwa liburan harus diperbanyak, supaya konsumsi lebih tinggi," lanjut pesan yang muncul di layar smartphone.

"Seminggu kemudian, Pejabat tersebut buat rapat dengan menteri-menteri untuk koordinasi yang membahas kebijakan perbanyak liburan, termasuk hari kejepit," ungkap Rizal Ramli

Tapi ada satu yang luput dari cerita Rizal Ramli kepada pejabat tinggi itu tersebut. Bab-bab sebelumnya dari buku yang mengungkap keberhasilan PM Zho Rong Ji genjot ekonomi China ke double digit, tidak dibaca.

"Sayang, bab-bab sebelumnya yang menopang kebijakan Holiday Economics itu tidak dijalankan.  Seperti, menggenjot pertumbuhan, pendapatan, produktifitas, infrastruktur dsb", lanjut Rizal Ramli.

"Jadi, Ekonomi masih dibawah 6%, pendapatan dan produktifitas masih rendah, tapi liburan sudah terlalu banyak,” pinta maaf Rizal Ramli diakhir ceritanya

Sementara itu aktivis 77/78 Indro Tjahyono mengemukakan, memang pertumbuhan ekonomi masih rendah di atas angka 5 sedikit. Namun produktifitas di sektor informal sebenarnya meningkat. Yang mungkin menurun adalah produktifitas untuk ekspor. Hal ini terjadi karena masih lemahnya pertumbuhan global.

Namun, kata Indro, pemerintah harusnya memberi insentif terhadap sektor tertentu seperti industri kreatif dan pertanian untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan.

Misalnya pengenakan pajak yang tepat untuk sektor pertanian dan pangan sehingga tidak membebani rakyat.Kalau sekarang dikatakan daya beli menurun saya kira kurang tepat. Tingkat konsumsi di kalangan kelas menengah hanya mengalami pergeseran. Sedang rakyat tidak pernah mengurangi tingkat konsumsi. Yang ada justru pendapatan mereka digunakan untuk  bisnis kecil-kecilan agar ekonomi mereka tetap bertahan.

Terpisah, peneliti senior NSEAS berpendapat dibandingkan era SBY, dari segi pertumbuhan ekonomi Indonesia, kinerja  era Jokowi lebih jelek. Kini bahkan udah  sekitar tiga tahun era Jokowi, kondisi ekonomi kita terus menurun. Jumlah pengangguran orang miskin kian banyak. Jumlah buruh PHK kian banyak. Daya beli masyarakat kian menurun. APBN kian defisit. Utang Pemerintah  kian banyak. Utang Pemerintah lebih banyak ketimbang utang swasta.

“Kondisi rupiah kian melemah terhadap dolar AS. Hari-hari libur semakin banyak.Pertumbuhan ekonomi masih sekitar 5 persen. Padahal janji kampanye target 5 tahun 8 persen. Masih jauh dari target. Sementara era SBY bisa capai 6.8 persen. Sedikit lagi jadi 7 persen. Kelas menengah era SBY tumbuh pesat,” papar Muchtar.

(Harian Terbit/Danial)


comments powered by Disqus