Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 08 September 2018 22:16 WIB

Seminar Ayo Olahraga Haornas 2018 Tekankan Pentingnya Sport Science

Ternate, HanTer - Sehari menjelang puncak perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-35 di Kota Ternate, Kementerian Pemuda dan Olahraga menggelar seminar Ayo Olahraga di Gedung Dhuafa Center, Ternate, Sabtu (8/9) sore. Seminar ini mengusung tema "Tantangan Pembangunan Olahraga di Era Milenial", menghadirkan nara sumber dari Kemenpora dan Pengelola Kompleks Gelora Bung Karno.
 
Sebagai rangkaian acara Haornas, Deputi III Kemenpora Raden Isnanta gembira dengan antusiasme warga setempat dalam mengikuti kegatan ini. Mulai dari pelajar, guru, dosen, hingga masyarakat sebagai pemerhati menyimak pemaparan para nara sumber seminar ini.
 
"Seminar ini untuk memberikan pengayaan ilmu pengetahuan kepada para peserta, menambah perbendaharaan informasi apa yang terjadi di daerah. Seminar ini sekaligus ajang tukar pikiran konsep pembangunan yang dicanangkan pemerintah pusat dan konsep membangun olahraga di era milenial. Bagaimana kita menata olahraga ke depan," kata Isnanta seusai acara.
 
Ia mengatakan, generasi milenial identik dengan kehadiran teknologi dan derasnya arus informasi. Isnanta mengatakan, ini menjadi peluang bagi pelaku olahraga untuk memanfaatkan peradaban baru ini.
 
Menurut Isnanta, olahraga penuh dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Olahraga selayaknya mendapatkan pendekatan teknologi dengan baik demi prestasi Indonesia pada masa depan. "Kalau tidak posisi kita bisa digulingkan negara lain karena semua berpacu dengan sport science," tegasnya.
 
Isnanta meminta masyarakat untuk tidak terlena oleh fakta Indonesia negara besar dengan penduduk besar. Sebab, jika tidak melakukan pendekatan ilmiah tersebut, posisi Indonesia di tempat keempat Asian Games 2018 bisa digulingkan karena negara-negara lain berpacu dengan sport science tadi.
 
Ia mengajak masyarakat untuk terjebak oleh modal penduduk besar yang dimiliki Indonesia. Menurut Isnanta, penduduk besar kalau tidak digarap secara ilmiah membuat potensi mereka tidak teraktualisasi dengan baik. "Kita harus seperti Cina, penduduk besar tapi pendekatan pembinaannya itu sport science," kata dia.
 
Lewat momentum Haornas, ia mengajak pendekatan secara terstruktur dan ilmiah dari usia muda. Ia meminta cabang olahraga lain mengikuti sepak bola yang menggelar kompetisi usia muda. Ajang yang digelar kemenpora ini diikuti timnas U-10, U-12, U-14, dan u-16. Di sisi lain, PSSI menggelar laga U-13, U-15, dan U17 juga. Ia menilai sepak bola mulai memetik hasil dengan pembinaan cara berjenjang itu.
 
"Tahun lalu pelajar kita juara di Gothia Cup. Itu Eropa, Australia, dan Asia juga ikut. Hampir kayak Piala Dunia.
 
Ia menyinggung timnas pelajar yang berjaya pada Piala AFF U-16. Artinya, kata dia, buah pembinaan secara terstruktur itu sudah terbukti di sepak bola.
 
Ia meminta cabang olahraga lain melakukan hal serupa. Sebab, bila tidak, mereka akan ketinggalan. "Kita lakukan pembinaan secara berjenjang. Ya kompetisinya, ya latihannya. Ya alatnya, ya kepelatihannya secara berjenjang,"cungkapnya.
 
Untyuk tahun ini dan tahun depan, Kemenpora mengikuti kebijakan Presiden RI Jokowi agar memprioritaskan pembangunan SDM. "Berarti kita harus cetak 100 ribu pelatih dengan kualifikasi, standardisasi yang berjenjang tadi. Mulai dari level daerah, nasional, hingga internasional. Lisensi harus ditingkatkan. Jadikanlah momentum Haornas ini kita menatap optimistis lebih nyata," pungkasnya.


(Hermansyah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats