Di Publish Pada Tanggal : Senin, 03 September 2018 15:25 WIB

Komitmem Kemenpora Kawal Pembinaan Sepak Bola Usia Muda

Bali, HanTer - Putaran final Nasional Liga Sepakbola Pelajar U14 dan 16 Piala Menpora 2018 resmi bergulir. Kick-off kompetisi sepak bola usia muda bergengsi ini ditandai dengan prosesi tendangan pertama yang dilakukan oleh Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Raden Isnanta pada laga pembuka di kelompok usia 16 tahun, saat pertandingan tuan rumah Bali melawan Sumatera Utara usai acara pembukaan yang berlangsung di Stadion I Gusti Ngurah Rai, Denpasar Bali, Senin (3/9/2018).
 
Menariknya, prosesi tendangan pertama yang dilaksanakan di tengah lapangan tersebut dilakukan secara berantai. Sekjen BLiSPI, Rusman mewakili Ketua Umum Badan Liga Sepakbola Pelajar Indonesia (BLiSPI), Subagja Suihan selaku operator kompetisi U14 mendapat kesempatan sebagai penendang pertama. Rusman kemudian mengoper bola kepada Kusnaeni selaku operator kompetisi U16 untuk kemudian diteruskan kepada Raden Isnanta yang mengolah bola dengan jugling terlebih dulu sebelum ditendang menuju udara.
 
Meski dikemas secara sederhana, namun acara pembukaan tetap berlangsung semarak dan meriah. Atraksi seni Bali yang disuguhkan oleh puluhan seniman setempat memberikan warna tersendiri pada acara pembukaan yang disaksikan ribuan masyarakat yang memadati Stadion I Gusti Ngurah Rai.
 
Turut dihadiri Kadispora Bali Ketut Ngurah Boy Jayawibawa, Asdep Olahraga dan Pendidikan Kemenpora, Alman Hudri, pimpinan-pimpinan daerah dari tim-tim yang berpartisipasi, Ketua Harian BLiSPI, Dani Septia Iskandar serta koordinator-koordinator wilayah dari seluruh provinsi di Indonesia.
 
Liga Sepakbola Pelajar U14 dan U16 Piala Menpora 2018 diikuti sebanyak 33 provinsi dengan total jumlah pemain yang terlibat mencapai kurang lebih 1400 pemain.
 
Raden Isnanta kepada awak media menyatakan jika perhelatan Liga Sepakbola Pelajar atau kompetisi berjenjang memperebutkan piala bergilir Piala Menpora ini adalah wujud nyata dari komitmen Kemenpora untuk menggerakkan dan memaksimalkan pembinaan sepak bola usia muda di Indonesia.
 
"Kita ingin memotivasi para pesepakbola usia muda di seluruh Indonesia untuk serius dan giat berlatih. Karena kami sudah memberikan wadah kepada mereka untuk mengasah ilmunya agar bisa menjadi yang terbaik. Kompetisi berjenjang ini sudah memasuki tahun kelima. Kali ini Bali yang menjadi tuan rumah," kata Raden Isnanta.
 
"Kompetisi ini rutin kita lakukan setiap tahun dan terukur. Para pemain yang tampil pada putaran final nasional ini adalah para pemain terbaik di provinsi masing-masing. Karena sebelumnya mereka telah berkompetisi di tingkat kabupaten/kota, kemudian meningkat ke tingkat provinsi dan sekarang bersaing di putaran nasional. Melalui kompetisi berjenjang ini tentunya kita akan benar-benar mendapatkan bibit-bibit unggul dari ujung-ujung Indonesia. Karena mulai dari tahap provinsi hingga nasional kami juga melakukan pemantauan bakat yang dilaksanakan oleh para mantan pemain nasional. Para pemain hasil pilihan para pemantau bakat lalu kita bentuk menjadi Timnas Pelajar," imbuhnya.
 
Timnas Pelajar bentukan Kemenpora juga diberi kesempatan untuk mengasah kemampuannya dengan mengikuti kejuaraan-kejuaraan sepak bola internasional. "Mereka juga kita kirim ke luar negeri. Misalkan mengikuti Kejuaraan Singa Cup di Singapura, Gothia Cup di Tiongkok dan Kejuaraan Sepakbola Pelajar Asia," paparnya.
 
Isnanta lebih lanjut mengatakan sejak pertama kali digelar pada 2014, Liga Sepakbola Pelajar Piala Menpora khususnya di kelompok usia 14 tahun telah menunjukkan hasil yang signifikan. "Contohnya adalah para pemain hasil pemantauan bakat pada kompetisi 2017 yang berlangsung di Magelang. Banyak yang diminta oleh Pelatih Timnas U16 PSSI, Fakhry Husaini untuk memperkuat Timnas U16 pada Piala AFF U16 2018 di Sidoarjo. Alhamdulillah mereka berhasil menjadi juara Piala AFF 2018," tutur Isnanta.
 
Selain memberikan wadah kompetisi, sambung Isnanta, Kemenpora juga komit mengawal kelanjutan masa depan para pemain dengan cara bekerjasama dengan pemandu bakat dari luar negeri yang berafiliasi dengan klub-klub profesional di luar negeri. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kesenjangan pembinaan dari fase yunior menuju senior.
 
"Memang saat ini kan ada kesenjangan dari fase yunior menuju senior. Itu terjadi karena para pemain yang berpotensi tidak memiliki wadah untuk meningkatkan kualitas permainannya. Mau masuk PPLP kan tidak semua daerah ada PPLP-nya. Karena itu, kami berupaya mencarikan solusi agar bibit-bibit unggul tersebut tidak mubazir. Caranya kami bantu mereka untuk bisa masuk ke akademi sepak bola klub-klub profesional di Indonesia misalnya Akademi Persib Bandung, Bali United dan lainnya," ujarnya.
 
"Selain itu kami juga bekerjasama dengan pemantau bakat dari luar negeri yang berafiliasi dengan klub-klub profesional mancanegara. Jadi para pemain hasil pemantaun bakat Liga Sepakbola Pelajar Piala Menpora  terus kita bantu untuk mengoptimalkan potensi dan bakatnya. Bukan hanya nasional tetapi juga sampai ke level internasional. Seperti Egy Maulana Vikri yang merupakan hasil binaan SKO Ragunan Jakarta naungan Kemenpora yang juga produk dari Liga Sepakbola Pelajar Piala Menpora. Kita ingin melahirkan Egy-egy baru," tandasnya.


(Hermansyah )



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats