Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 11 April 2018 22:58 WIB

Legenda Basket Nasional Berang Terkait Naturalisasi

Jakarta, HanTer - Salah satu legenda bola basket tanah air, berang dengan rencana Pengurus Besar Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PB Perbasi) yang akan melakukan proses naturalisasi guna membentuk sebuah timnas tangguh yang akan dipertandingkan pada kejuaraan basket dunia bertajuk FIBA 2023.

Adalah Bambang Hermansyah yang sangat menyayangkan niatan Perbasi untuk melakukan tahap naturalisasi sejumlah pebasket asal Afrika menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Mantan pemain dari Pelita Jaya di era 80-an menyebut bahwa langkah tersebut dinilai salah kaprah. Tak ayal bila dirinya menjadi salah satu penentang proses naturalisasi.

Yang terpenting baginya, bahwa Perbasi seharusnya lebih memfokuskan diri untuk melakukan pembinaan berjenjang dibandingkan melakukan proses naturalisasi secara instan. "Kalau saya tentu tidak setuju. Sekarang bagaimana tentang pembinaannya saja dari usia muda," kata dia saat dihubungi, Rabu (11/4/2018) kemarin.

Langkah naturalisasi yang dicanangkan PB Perbasi sendiri tak lepas karena pihaknya ingin memberikan gebrakan pada ajang bergengsi FIBA yang akan berlangsung pada 2023 di Indonesia. Tentu berstatus sebagai tuan rumah, Perbasi tidak hanya ingin menjadi penyelenggara yang baik, melainkan juga menjaga potensi akan prestasi.

Perbasi segera melakukan proses naturalisasi terhadap pemain asing, khususnya yang berasal dari Afrika pada usia 16 tahun. Dari proses itu, diharapkan pebasket naturalisasi akan berusia matang yakni 21 tahun saat berlangsungnya FIBA 2023. Ditengah kematangan usia, induk tertinggi bola basket tanah air berharap Merah Putih mampu bersaing di level dunia.

Naturalisasi tak lepas karena Perbasi kesulitan mencari pemain dengan postur tinggi di Indonesia. Akan tetapi, jelas Bambang, langkah itu bukanlah sebuah solusi tepat. Justru, dengan memaksimalkan para pemain lokal, potensi akan terus terasah apabila para pemain timnas basket mampu ditempa secara profesional dan berjenjang.

"Kendala fisik? Pasti ada kok (fisik diatas 2 meter -red). Kalau pun saat ini belum ada, mereka (Perbasi -red) harus cari. Jangan langsung main naturalisasi. Bukan begitu. Intinya, bina yang ada sekarang. Kita bukan hanya menatap hari ini, tetapi masa depan. Dan harus jelas juga blue printnya mengenai target," cetus pria yang sempat melatih Timnas Basket Indonesia di ajang SEA Games 1990-an.

Karena, lanjut dia, selain mematahkan segenap program pembinaan, proses naturalisasi juga akan berdampak kencang terhadap psikis, baik atlet maupun para penggila basket tanah air, khususnya bibit muda yang tengah ditempa mendapat binaan untuk lahir menjadi atlet profesional kedepan.

"Apakah Mempengaruhi psikis pemain lokal? Bukan atlet saja, masyarakat basket Indonesia akan terpengaruh psikisnya. Sekaran contoh, orang tua buat apa membina lagi anaknya kalau ujungnya akan ada naturalisasi. Jadi pemikirannya nanti, main basket hanya sebatas olahraga saja. Tidak ada prestasinya. Seharusnya basket ini merupakan sebuah industri dan berujung kepada prestasi," paparnya.


(Eka)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats