Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 14 November 2017 09:43 WIB

SOS Pertanyakan Kinerja BOPI

Jakarta, HanTer - Save Our Soccer (SOS) selaku lembaga pemerhati sepakbola tanah air turut geram atas beragam hal kontroversi pasca berakhirnya kompetisi Gojek Traveloka Liga 1 musim ini. Bahkan SOS menilai bahwa kompetisi kali ini mempunyai raport terburuk dalam sejarah pagelaran kasta bergengsi sepakbola tanah air. 

Pertama terjadi ketika citra sepakbola Indonesia tercoreng setelah PSSI selaku induk tertinggi sepakbola tanah air belum bisa menjamin kemaslahatan antar suporter. Meski deklarasi damai sempat digagas pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Agustus lalu, rupanya belum menyentuh ke akar rumput.

Itu terlihat pada pekan terakhir kompetisi. Dimana akhir pekan lalu, Minggu (12/11/2017), kompetisi bergengsi ditutup dengan tragedi atas meninggalnya seorang suporter sepakbola karena aksi pengeroyokan di luat lapangan hijau. Itu sangat ironis menyusul rivalitas hanya boleh dilakukan selama 90 menit. 

Adalah Rizal Yanwar Putra, The Jakmania (kelompok pendukung Persija Jakarta) Sukatani Subkorwil Cikarang, yang harus meregang nyawa dan mengalami luka di sekujur tubuh dalam perjalanan mendukung Persija Jakarta saat dijamu Bhayangkara FC di Stadion Patriot Chandrabraga, Bekasi, Jawa Barat. 

Berdasarkan data dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Rizal adalah “tumbal nyawa” ke-66 dari “kejamnya” sepakbola Indonesia sejak digulirkan pada 1994/1995. Khusus untuk Jakmania, Rizal meenjadi korban ketujuh. Sebelumnya, menimpa Fathurrrahman saat laga Persija vs Persipura, 25 September 2005. 

Lalu Fathul Mulyadin juga saat laga Persija vs Persipura pada 6 Februari 2008. M. Fahreza saat laga Persija vs Persela 13 Mei 2016. Gilang dan Harun Al Rasyid pada 6 November 2016 sepulang menyaksikan laga Persija vs Persib di Stadion, Manahan, Solo. Kemudian, Agen Astrava juga dalam perjalanan pulang usai Persija vs Bali United di Stadion Patriot, 21 Mei lalu. 

"Total, selama 2017, sudah 12 `tumbal nyawa` di sepakbola Indonesia. Terbanyak sepanjang sejarah! Selama ini pengusutan terhadap tewasnya suporter tak pernah tuntas. Hanya lips service setelah itu hilang ditelan bumi," urai Akmal Marhali selaku Koordinator SOS, Senin (13/11/2017).

Itu diluar teknis. Sementara didalam juga terjadi carut marut kompetisi. Ia juga menilai bahwa ini merupakan kompetisi terburuk sepanjang sejarah. Terlebih saat ini salah satu lembaga yang berada dibawah Kemenpora yakni Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) seraya ditelan bumi.

"Semua harus dievaluasi. Ini kompetisi terburuk sepanjang sejarah. Mulai dari legalitas klub, penegakkan regulasi, keuangan klub, kekerasaan suporter, sampai kepada pengaturan skor untuk juara, promosi dan degradasi. Ini menjadi pekerjaan PSSI bersama Menpora. Kan Menpora punya BOPI sebagai pengawas," tegas dia. 

Bahkan ia menilai saat ini BOPI seperti kehilangan taji dalam mengemban tugasnya. Tidak seperti yang dilakukan pada kepengurusan PSSI era sebelumnya, dimasa kepemimpinan La Nyalla Mattalitti. "(BOPI) pengawasan olahraga profesionalnya gimana? Adem-adem aja. Sebelumnya paling sibuk," cetus dia. 


(Eka)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats