Di Publish Pada Tanggal : Senin, 09 Oktober 2017 11:24 WIB

Taufik Hidayat: Satlak Prima Dibubarkan, Apakah Sudah Tepat?

Jakarta, HanTer - Tidak ada hujan dan badai, tiba-tiba muncul sebuah kehebohan baru di pentas olahraga Indonesia akhir pekan lalu. Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) akan dibubarkan oleh pemerintah. 
 
Hal itu mencuat lantaran kegagalan kontingen Indonesia di pentas SEA Games 2017 Malaysia lalu yang hanya mampu berada di posisi lima klasemen akhir dengan mendulang 38 emas, 63 perak dan 90 perunggu.
 
Wacana pemerintah untuk membubarkan Satlak Prima karena ingin memotong alur birokrasi anggaran Asian Games 2018. Kebijakan ini ditempuh dengan tujuan agar jarak antara pengambil keputusan dan pelaksanaan Asian Games 2018 lebih pendek. 
 
Untuk itu, dengan wacana pembubaran Satlak Prima, diharapkan pengambilan keputusan makin cepat. Tidak ada lagi masalah yang menyangkut, seperti keterlambatan soal uang saku, pembelian peralatan baru, dan kebutuhan pelatnas lainnya.
 
Kebijakan itu tengah ditempuh pemerintah dan tinggal  menunggu terbitnya perpres pembubaran Satlak Prima. Cuma, dari kacamata Taufik Hidayat sebagai mantan atlet, ia bertanya, apakah pembubaran Satlak Prima itu akan menyelesaikan masalah? Terlebih, penyelenggaraan Asian Games 2018 tinggal 10 atau 11 bulan lagi. Waktunya demikian mepet.
 
"Proses birokrasi penyaluran dana pemusatan latihan nasional selama ini dinilai terlalu panjang. Ini yang menjadi biang kerok permasalahannya," ujar Taufik melalui pernyataan tertulisnya, Senin (9/10/2017).
 
"Cuma, sepertinya para pembisik bagi pembuat keputusan di atas tidak tahu. Sejatinya Satlak Prima itu adalah lembaga pembuat program latihan agar performa para atlet elite dan andalan bisa lebih optimal. Satlak Prima fungsinya hanya membantu dan mendukung induk-induk organisasi dengan berbagai program untuk meningkatkan performa para atlet bisa tampil optimal," tambahnya.
 
"Untuk diketahui pula, Satlak Prima tidak pernah mengurusi soal masalah keuangan dan distribusi penyaluran dana bagi pelatnas. Segala urusan uang dan penyaluran dana bagi kebutuhan pelatnas, semua birokrasi dan KPA-nya ada di Kemenpora. Jadi menurut saya, pembubaran Satlak Prima ini blunder dan salah arah!," tegasnya.
 
"Yang lebih aneh lagi, setelah Satlak Prima dibubarkan, kabarnya KONI akan diberi peran lebih besar. Ini juga menggelikan. Birokrasi panjang yang katanya ingin dipangkas, namun kembali melibatkan lembaga lain. Ini artinya cuma ganti nama saja. Saya rasa birokrasinya nanti akan tetap panjang dan berbelit," tuturnya.
 
Menyangkut pengalihan tanggung jawab untuk meningkatkan performa atlet elite kepada induk organisasi, tidak semua PB-PB memiliki kemampuan dan berkecukupan dana untuk menjalankan pelatnas secara mandiri. Dari sekian banyak induk organisasi olahraga di Tanah Air, hanya segelintir yang memiliki kemampuan dalam melakukan pembinaan prestasi. "Mungkin baru PP PBSI," tuturnya.
 
"Yang menyedihkan lagi, induk organisasi yang getol dan menyambut gembira pembubaran Satlak Prima ini adalah induk organisasi yang sebenarnya belum menunjukkan prestasi besar. Induk organisasi tersebut hanya ikut memanas-manasi suasana dan bak memancing di air keruh!," anggap Taufik.
 
Sebaiknya, para pemangku kepentingan duduk bersama. "Kita duduk bareng untuk mencari terobosan terbaik dan sekaligus mencari solusi agar penampilan atlet-atlet Indonesia bisa tampil optimal dalam Asian Games 2018," harapnya.
 
Alangkah idealnya, dengan waktu yang demikian mepet, sebaiknya kalau ada masalah soal lambannya birokrasi dalam penyaluran pendanaan pelatnas, perlu ada skala prioritas. 
 
"Cabang-cabang olahraga yang memiliki kans besar untuk merebut medali dalam Asian Games 2018, diberi privilege. Sehingga proses pelatnas bisa terus berjalan tanpa terganggu oleh soal keterlambatan dana yang dipicu oleh berbelitnya birokrasi dan proses pencairan dana bagi pelatnas," terang Taufik.
 
"Yang tidak kalah penting. Jangan bawa persoalan pembinaan olahraga ke dalam ranah politik!," pungkasnya.


(Hermansyah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats