Di Publish Pada Tanggal : Minggu, 08 Oktober 2017 18:31 WIB

Yayuk: Pemangkasan Birokrasi itu Bukan Bubarkan Prima

Jakarta, HanTer - Salah satu Anggota Komisi X DPR-RI, Yayuk Basuki angkat bicara terkait sejumlah upaya untuk membubarkan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima).

Ia meminta Menpora Imam Nahrawi jangan mencari "kambing hitam" dengan membubarkan Prima terkait kegagalan Indonesia mencapai target pada SEA Games Malaysia 2017.

Padahal, kegagalan tersebut lebih kepada persoalan pasokan anggaran yang berada di Kemenpora sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

"Semuanya kan sudah jelas kok bahwa kegagalan Indonesia di SEA Games 2017 itu terjadi karena persoalan anggaran yang berada di Kemenpora selaku KPA. Jadi, Menpora janganlah cuci tangan dan mencari "kambing hitam" dengan mengorbankan Prima. Lantas dimana tanggung jawabnya?," tanya dia, Minggu (8/10/2017).

Tuduhan Prima sengaja dikorbankan cukup beralasan. Sebab, Yayuk  berpegang pada ucapan Menpora Imam Nahrawi yang mengaku siap bertanggung jawab bahkan ngotot ingin menjadikan Satlak Prima menjadi Satuan Kerja (Satker) dalam Rapat Kerja beberapa waktu lalu.

"Menpora sendiri kok yang berbicara di Raker. Bukan hanya siap bertanggung jawab tetapi Satlak Prima akan diusulkan menjadi Satker tersendiri. Kenapa sekarang justru Satlak Prima yang dikorbankan?," tegasnya.

Dalam hal ini, kata Yayuk, dirinya bukan berarti membela Satlak Prima. Tetapi, sebagai mantan atlet nasional yang tahu persis kebutuhan atlet, dia wajib meluruskannya.

Yayuk yang pernah menembus peringkat 20 besar dunia ini mengaku salah seorang anggota Komisi X yang menyoroti soal pemangkasan birokrasi saat Raker dengan Kemenpora.

"Sorotan saya soal pangkas birokrasi itu adalah pertama kenapa atlit itu kalau ingin try out atau TC ke luar negeri dimana harus ada izin dari Setneg. Atlet itu kan bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) jadi tidak diwajibkan," paparnya.

"Berbeda dengan saya sebagai anggota DPR atau pejabat pemerintah ya memang harus melalui mekanisme itu," ucap Yayuk.

Atlet menjalani try out dan mengikuti suatu turnamen di luar negeri, kata Yayuk, bukan berdasarkan undangan tetapi mendaftar. Seperti contoh, atlet bulutangkis dan tenis.

Mereka harus aktif mengikuti turnamen di luar untuk mengasah kemampuan sekaligus mengejar peringkat.

"Terlalu riskan kalau mereka menjalani try out harus ada izin ke Setneg yang terkadang baru turun dalam hitungan minggu bahkan bulan. Jalur birokrasi model begini yang jelas mengganggu kan harus dipotong," katanya.

Kemudian, lanjut dia, masalah keuangan yang terlambat dikucurkan. "Saya banyak sekali menerima aduan dari atlit beberapa cabang olahraga, kenapa uang akomodasi banyak yang belum turun. Terus terang, masalah dana akomodasi ini saja belum tuntas sampai sekarang padahal SEA Games 2017 sudah selesai," tandasnya.

Semua kendala tersebut, ungkap Yayuk, bukan berada di Satlak Prima melainkan di Kemenpora. Sebab, Satlak Prima tugasnya membuat program dan mendesain agar cabang-cabang olahraga mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

"Satlak Prima ini merupakan program pemerintah yang waktu itu bernama Program Atlit Andalan (PAL) dimana saya menjadi Tim Monitoring. Makanya, saya paham benar dengan kinerja Pak Cipto yang tidak pernah "macam-macam" dan benar benar mau bekerja."

"Apalagi, kemampuan beliau sudah terbukti saat memimpin PB PODSI dimana pedayung binaannya telah mengukir prestasi dengan meraih 3 emas pada Asian Games China 2010 dan dua perunggu pada Asian Games Incheon 2014 dan lolos ke Olimpiade Rio de Janeiro 2016," jelasnya.

Selain itu, keberadaan Satlak Prima sangat dibutuhkan dalam pengawasan khususnya kepada setiap cabang olahraga.

Sama halnya dengan mantan Deputi Kemenpora Joko Pekik Irianto, Yayuk juga sepakat terlalu riska jika pemerintah membubarkan Satlak Prima mengingat waktu pelaksanaan Asian Games 2018 hanya tinggal 11 bulan lagi.


(Eka)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats