Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 19 September 2017 17:47 WIB

Tiga Rekor APG Dipecahkan, Satu Tangan Guntur Menembus Keterbatasan

Kuala Lumpur, HanTer - Atlet renang Inonesia yang tampil di ajang ASEAN Para Games (APG) IX/2017, Guntur, sebelumnya tak bisa membayangkan jika dirinya bisa berkeliling Asia dengan segala keterbatasannya. Bahkan, dia pun tak kepikiran mampu untuk berenang dengan hanya menggunakan satu tangannya, terlebih memecahkan rekor. 
 
Ya, Guntur, atlet NPC kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, 12 Oktober 1983 itu sukses memecahkan rekor APG dengan waktu 01;20.53 detik saat tampil di pesta olahraga dua tahunan negara-negara se-Asia Tenggara edisi ke-9, ketika berlangsung di National Aquatic Centre, Bukit Jalil Sports City, Selasa (19/9/2017).
 
Pria berusia 34 tahun itu berhasil mencetak rekor baru atas namanya sendiri yang dibuatnya ketika perhelatan APG edisi Singapura dua tahun lalu dengan catatan waktu 1;22.10 detik. "Ini Maha karya Tuhan. Saya mungkin tak berada di sini jika kondisi fisik saya utuh," kata Guntur usai meraih medali emas 100 meter gaya dada SB8 APG IX/Malaysia.
 
Hebatnya lagi, ini merupakan emas ketiga Guntur di APG kali ini, di mana sehari sebelumnya ketika tampil di nomor 50 meter gaya dada SB8 putra, ia juga mampu mematahkan rekor sebelumnya yang diciptakan oleh Nguyen Quang Vuong (Myanmar) pada tahun 2011 di Solo. Guntur mencatatkan waktu 36,78 detik, sedangkan rekor sebelumnya adalah 37,33 detik. 
 
Selain itu, ketika tampil di nomor estafet 4x100 meter gaya bebas putra, ada campur tangan Guntur saat Indonesia meraih medali emas bersama Jendi Panggabean, Musa Mandan Karuba dan Suriansyah, kemarin. 
 
Keempat perenang difabel terbaik Indonesia itu tak hanya meraih emas dengan catatan waktu 26,05 detik, namun mereka juga mampu menembus rekor APG yang telah terpatri sejak tahun2011 atas nama tim Indonesia dengan catatan waktu empat menit 29,09 detik.
 
"Saya tampil lima nomor. Masih ada 50 meter gaya bebas dan estafet 4x100 meter gaya ganti. Saya masih lapar kemenangan, bertekad mengambil dua emas lagi," tekad Guntur yang berterima kasih kepada pemerintah pusat atas perhatiannya terhadap atlet difabel. 
 
Menyinggung soal latihan dengan keterbatasan fisik, diakui sangat melelahkan. Tapi, Guntur tak mau mengeluh di depan pelatih. "Fokus latihan saya pada kaki dan tangan kanan. Awalnya sempat merasakan pegal-pegal usai latihan. Tapi, kelamaan saya nikmati saja karena saya ingin buktikan dengan keterbatasan saya bisa menembus batas," Guntur mengungkapkan.
 
Guntur sejatinya dilahirkan normal. Dia berasal dari keluarga nelayan. Laut, ombak, maupun badai, sudah menjadi sahabatnya sejak kecil. Tapi, malang tak bisa dihindari. Pada tahun 2000 ketika melaut, dia mengalami kecelakaan kapal motor di Kaltim. Tangan kirinya tergiling oleh mesin kapal nelayan. 
 
Ia sempat shock berat. Berbulan-bulan dia terpuruk. Dia tak membayangkan hidup dengan sebelah tangan. Tapi itu semua disadarinya lantaran kehendak Tuhan dan ia tak bisa melawan. Guntur malah diberi jalan untuk menjadi besar. 
 
Dunia renang yang ditekuninya sejak berusia 18 tahun membuka jendela dunia untuknya. Anak ketiga dari 7 bersaudara pasangan Haji Santer dan Hajah Suwarni ini akhirnya tampil di pekan Paralimpiade nasional pada 2008 silam. 
 
Fantastis! Kemampuan berenang Guntur tidak berkurang meski dia hanya mengandalkan ayunan tangan kanannya. Malah dengan satu tangan, pria yang bercita-cita menjadi -pengusaha ini merasa bisa berenang lebih cepat dari sebelumnya kala memiliki dua tangan.
 
"Saya awalnya juga tidak percaya, kok dengan tangan satu malah saya lebih cepat berenang. Inilah yang membuat saya termotivasi untuk terus latihan ingin menunjukan pada semua orang, bahwa kekurangan juga bisa berprestasi, kekurangan bisa menembus keberhasilan," papar Guntur.
 
Dirinya pun mengakui, tampilan fisik pasca kecelakaan membuatnya minder. Namun jika di tengah arena ia merasa semua sama. Tak ada perbedaan antara atlet normal maupun difabel. Hanya saja, Guntur merasa prestasinya tak dihargai sama sekali oleh pemerintah daerah. 
 
"Kami salut dengan perhatian pemerintah pusat. Menpora Imam Nahrawi pernah menuturkan bahwa kami para atlet difabel adalah setara dengan atlet normal dan mendapat perlakuan yang sama. Berbeda dengan pemerintah daerah. Prestasi saya tak dihargai sama sekali. Jangankan bonus, perhatian saja tidak," curhat Guntur yang segera ke pelaminan bersama kekasihnya, Richa Primastiwi, karyawan sebuah bank swasta di Solo pada tahun ini.


(Hermansyah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats