Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 21 November 2017 10:52 WIB

Pengamat: Plt Ketum Golkar Terpilih adalah Tangan Kanan Setnov

Jakarta, HanTer - Pasca ditetapkannya Setya Novanto menjadi tersangka dugaan korupsi proyek e-KTP dan ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maka yang berpotensi menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum antara lain adalah Idrus Marham, yang saat menjabat sebagai Sekretaris Jendral (Sekjen) Partai Golkar. Idrus berpeluang jadi Plt Ketum karena diusulkan dewan pakar Partai Golkar, 
 
"Alasannya lainnya mungkin karena beliau (Idrus Marham) lebih dekat ke Ketum Setnov, Airlangga Hartato dan Nurdin Halid," kata pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago dalam pesannya kepada Harian Terbit, Selasa (21/11/2017).
 
Menurut Pangi, untuk pemilihan Plt Ketum Umum Golkar tidak akan terlalu dinamis dan tidak terlalu menarik untuk dicermati. Karena Plt Ketua Umum hanya akan menyiapkan dan kapan Munaslub Golkar digelar. Munaslub Golkar bisa saja digelar di penghujung tahun 2017 ini. Munaslub harus segera digelar untuk menyelesaikan dan mengakhiri silang sengkarut di internal yang cukup menguras energi Golkar di tahun 2017. 
 
"Karena 2018 adalah tahun politik lembaran baru guna menyongsong, menatap masa depan partai Golkar," papar Pangi yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseach and Consulting ini.
 
Lebih lanjut Pangi mengatakan, yang sangat dinamis dan cukup sengit pertarungannya adalah pemilihan Ketua Umum Golkar definitif via Munaslub. Mengingat Idrus Marham lebih dekat ke Setnov sehingga belum tentu diterima Presiden Jokowi. Sementara Airlangga Hartato lebih dekat ke Jokowi dan bisa bekerjasama dengan pemerintah dan presiden.
 
"Nurdin Halid mungkin tidak menjadi pertimbangan karena Golkar  tidak mau mengulang peristiwa hukum yang sama," jelasnya.
 
Pangi menilai, Idrus Marham sangat tipis peluangnya untuk terpilih sebagai ketua umum definif. Karena ketua umum definitif Golkar harus punya irisan ke presiden dan pemerintahan Jokowi. Kemungkinan kedepannya yang terpilih sebagai ketua umum definitif yang dekat dengan presiden dan bisa bekerjasama dengan pemerintah. Oleh karena itu terpilihnya Setnov sebelumnya karena dekat dengan Presiden Jokowi dan mau bekerjasama dengan pemerintah.
 
"Kerja ketua umum definitif Golkar maha berat. Meraih 3 besar saja sudah syukur karena tergerusnya elektibilitas Golkar pasca tersandungnya Ketua Umum Setnov dalam kasus korupsi e-KTP," tegasnya.
 
Namun yang jelas, sambung Pangi,  jangan sampai ketua umum definitif hasil Munaslub, mengulang potensi hukum yang sama. Oleh karena itu pilih lah ketua umum yang sudah selesai dengan dirinya, alias tidak tersandera seperti Setnov. Harus benar-benar harus dipastikan yang berintegritas, kridibel dan punya kapabalitas serta mampu membangkitkan trust building, memantik animo kepercayaan pemilih Golkar, sehingga Golkar minimal bisa masuk tiga besar partai pemenang pemilu 2019. 


(Safari)




Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats