Di Publish Pada Tanggal : Senin, 30 Maret 2015 02:28 WIB

Kader Demokrat Wajib Sawer SBY Biar Jadi Ketum

Jakarta, HanTer - Politisi Partai Demokrat, Agung Budi Santoso menegaskan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah memaksakan keinginan untuk kembali menjadi ketua umum Partai Demokrat. Kader-kader Partai Demokrat yang memiliki suara seperti DPD dan DPC lah yang murni memiliki keinginan agar SBY kembali menjadi pengendali di partai berlambang bintang mercy tersebut.

“Bukan Pak SBY yang ingin, beliau tidak pernah memaksakan untuk menjadi ketua umum lagi. Tetapi ini murni dari keinginan para pemilik suara yaitu DPD dan DPC yang ingin SBY memimpin lagi. Jadi bukan topdown tapi buttom up. Kita sampaikan hal ke SBY dan kita mohon Pak SBY memimpin lagi pada periode ini,” ujar Agung, Minggu (29/3/2015).

Menurut Agung partainya solid mendukung SBY dan tidak  mungkin  SBY `diIcalkan` yang semula didukung penuh DPD dan DPC di Munas Bali, namun kemudian beberapa DPD dan DPC Partai Golkar berbelok mendukung Munas Jakarta yang dipimpin Agung  Laksono. Dia pun yakin PD tidak akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami Partai Golkar yang terpecah pasca kongres.

“Ya mudah-mudahan tidak seperti itulah. Kita kan solid, kawan-kawan pemilik suara solid. Dan ini keinginannya dari bawah bukan dari atas dan kita memohon Pak SBY untuk memimpin lagi. Jadi mudah-mudahan kami tidak diGolkarkan lah,” tegasnya.

Saat ditanya dari mana SBY memiliki dana untuk menggalang kekuatan mengingat menurut laporan LHKP nya terakhir, SBY bisa dikatakan calon ketua umum yang miskin karena hanya memiliki kekayaan Rp 9 miliar rupiah, sementara biaya untuk melakukan konsolidasi kader-kader dari DPC dan DPD seluruh Indonesia seperti untuk biaya transportasi, biaya penginapan dan lain sebagainya untuk ratusan DPC dan DPD pasti lebih dari kekayaan yang dimiliki SBY, Agung mengatakan bahwa kader-kader yang duduk di DPR lah yang akan menanggung biaya tersebut.

“Kita kan ada celengan dan iuran partai. Dan sebagai anggota dewan iuran itu wajib ke partai, begitu juga pada saat nanti kongres PD demi kemenangan SBY sebagai ketum partai ini," kata Agung.

Ditanyakan mengenai adanya tekanan agar SBY terpilih secara aklamasi termasuk pernyataan Kader PD yang juga loyalis Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, Gede Pasek Suardika bahwa jika ingin aklamasi sebaiknya kongres dilakukan di Cikeas (red: kediaman SBY) saja sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak uang? Agung menegaskan bahwa pendapat seperti itu boleh-boleh saja tapi hal itu tidak mungkin, karena Cikeas tidak mungkin bisa menampung seluruh pengurus DPC dan DPD PD di dareah sebagai pemilik suara.

Sebelumnya banyak pengamat politik maupun kader PD Seperti Gede Pasek Suardika dan juga Ketua Pendiri Forum Komunikasi Partai Demokrat (FKPD) Vence Rumangkang tidak menginginkan pelaksanaan kongres PD dalam waktu dekat digelar untuk aklamasi. Mereka pun menentang langkah-langkah SBY yang meminta dukungan bermaterai dari para pengurus DPD dan DPC PD.

Pasek bahkan menegaskan keinginan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin kembali Partai Demokrat dilakukan tidak dengan cara demokratis dan menjauhkan PD dari ideologi. Dukungan bermaterai yang diklaim telah diraih oleh SBY adalah tidak fair.

“Kalau Partai Demokrat mau kongres, saya usulkan kepanitiaan itu harus dibuat bersama. Jangan panitia merangkap tim sukses satu kubu,” kata Pasek.

Pasek pun mengingatkan bahwa dalam tatib yang akan dibahas di kongres, bahwa siapapun yang memiliki dukungan 20-35 persen suara diharapkan bisa maju sebagai calon ketum. “Bukan berdasarkan surat bermaterai yang dibawa,” tegasnya.

Kalau SBY menggunakan cara seperti itu, dia pun mengejek SBY untuk menggelar kongres di Cikeas saja. SBY juga tidak perlu mengundang kader karena toh kader sudah memberikan suaranya lewat pernyataan tertulis dan bermaterai. Dia pun menegaskan dengan cara ini publik akan mentertawai SBY

“Kalau menggunakan surat bermaterai lebih baik kongresnya di Cikeas saja, sudah selesai itu. Karena lebih dari 90 persen sudah tanda tangan semua. Kalau pakai bermaterai kan itu jelas aklamasi, siapapun melawan tidak bisa. Saya kira nanti publik akan tertawa,” pungkas Pasek.

Seperti diketahui juga, Wakil Ketua Umum Demokrat Agus Hermanto mengakui saat ini ada pengumpulan kontrak bermaterai menjelang kongres. Kontrak tersebut merupakan bentuk kesetiaan kader terhadap SBY. Namun dirinya mengklaim kontrak itu dibuat bukan atas permintaan SBY melainkan inisiatif dari DPP.

Agus juga mengklaim tidak ada intervensi dari DPP Pusat terkait kontrak loyalitas terhadap SBY. Menurutnya kontrak tersebut hanya bentuk dukungan agar SBY dipilih sebagai ketua umum Demokrat secara aklamasi pada kongres nanti.


(Luki)




Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats