Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 26 Juli 2018 23:15 WIB

LIPI Kukuhkan Tiga Ilmuwan sebagai Profesor Riset

Jakarta, HanTer - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengukuhkan tiga orang ilmuwan sebagai profesor riset baru, yakni dua ilmuwan dari LIPI dan seorang ilmuwan dari Kementerian Dalam Negeri, di Jakarta, Kamis (26/7/2018).

Dua ilmuwan dari LIPI adalah Dr. Asvi Warman Adam dan Dr. Sarip Hidayat. Sementara satu ilmuwan dari Kemendagri adalah Dr. Syachrumsyah Asri. Profesor Asvi menyampaikan orasi ilmiah berjudul Dampak G30S: Setengah Abad Histografi Gerakan 30 September 1965.

Dalam risetnya tersebut, Asvi menerangkan proses perebutan kekuasaan yang terjadi setelah Gerakan 30 September (G30S) 1965 pecah yang memakan banyak korban. Ada sekitar 500 ribu orang terbunuh di Jawa, Bali dan Sumatera. "Proses pengambilalihan kekuasaan terhadap Soekarno memakan korban terbesar dalam sejarah Indonesia," kata Asvi di Auditorium LIPI, Jakarta, Kamis (26/7/2018).

Selain itu ribuan orang Indonesia yang sedang menempuh pendidikan atau bekerja di luar negeri dicabut kewarganegaraannya dan menjadi eksil. Sebanyak 11 ribu orang dibuang ke Pulau Buru serta para penyintas peristiwa G30S dan keluarganya memperoleh stigma buruk di masyarakat.

Sementara peneliti LIPI Dr. Sarip Hidayat memaparkan orasi ilmiah berjudul Desentralisasi dalam Perspektif Relasi Negara dan Masyarakat: Mengurai Akar Persoalan dan Meretas Solusi Kebijakan Otonomi Daerah di Indonesia.

Ia menguraikan ada tiga akar persoalan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia yakni masih adanya tarik menarik antara keinginan desentralisasi dan keinginan untuk sentralisasi kewenangan. Yang kedua adalah masih kuatnya kalangan elit lokal di berbagai daerah. Sedangkan yang ketiga adalah reformasi yang tidak berjalan dengan baik dengan ditandai banyaknya pejabat yang masih terkena kasus KKN.

Sedangkan peneliti dari Kementerian Dalam Negeri, Dr. Syachrumsyah Asri mengusulkan agar pembangunan di kawasan perbatasan Kaltim dan Kaltara dilakukan harus menyentuh kondisi sosial masyarakat. "Pembangunan kawasan perbatasan perlu didesain melalui pendekatan kultural atau perpaduan bottom up dan top down guna melengkapi pendekatan yang sudah ada. 

 

 


(CL/An)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats