Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 11 Juli 2018 12:33 WIB

STP Bali Tiupkan Inspirasi di Asia

Denpasar, HanTer - Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali sukses membagikan inspirasinya kepada Asia. Cara yang dilakukan dengan menggelar Konferensi Asia di Bali, 4-6 Juli 2018. Output yang dibidik lahirnya individu sebagai seorang pemimpin tangguh dan memiliki visi baru.
 
“Konferesi Asia ini sangat penting. Sebab, ada banyak informasi dan pengetahuan baru yang di share. Dengan berbagai pengetahuan baru ini, diharapkan lahir pribadi tangguh dengan karakter pemimpin,” ungkap Ketua SPT Bali Dewa Gede Ngurah Byomantara, kemarin.
 
Menggelar Konferensi Asia, jawaban menjadi pemimpin Asia di tengah pusaran arus perubahan diurai. Berkolaborasi dengan Monash Business School dan Swinburne University of Technology, narasumber nomor wahid pun dihadirkan. Sebut saja Bill Harley (Universitas Melbourne), Kevin Lowe (Universitas Sydney), juga Cynthia Cherrey (Asosiasi Kepemimpinan Internasional).
 
Menguatkan warna, beberapa tokoh lokal juga dihadirkan. Ada Ali Ghufron Mukti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) hingga Rozan Anwar (Daya Dimensi Indonesia). Dengan kapabilitas yang dimilikinya, para tokoh tersebut diharapkan bisa membagikan inspirasinya kepada audience. Byo-sapaan Dewa Gede Ngurah Byomantara-menambahkan, paparan narasumber menjadi energi besar.
 
“Paparan yang disampaikan oleh narasumber sangat mencerahkan. Selain menginspirasi, paparannya itu juga bisa membangkitkan motivasi. Keinginan untuk terus berkarya dan menghasilkan inovasi yang baru. Tujuannya untuk memenangkan persaingan setidaknya di level Asia,” lanjut Byo.
 
Memberikan pencerahan, beragam materi pun diberikan secara mendetail. Seperti sudah diketahui, Asia memegang peranan vital. Sebab, 60% populasi di dunia ada di Benua Kuning. Pada perkembangannya, benua ini menjadi destinasi utama Foreign Direct Investment (FDI). Zonasi ini bisa menarik sepertiga saham FDI global. Nilainya pun fantastis USD1,76 Triliun.
 
“Karakter dari Asia ini sangat unik. Dengan potensinya, Asia mampu mendominasi FDI pada beberapa waktu terakhir. Pemahaman dan tantangannya inilah yang coba disampaikan kepada audience. Hingga posisi tersebut menjadi stabil di Asia bahkan terus tumbuh ke depannya,” jales Byo lagi.
 
Tantangan besar memang harus dihadapi masyarakat Asia. Setiap saat, masyarakat Asia ini dihadapkan pada perubahan-perubahan baru dalam waktu singkat. Perubahan ini sebagai efek dominan cepatnya pertumbuhan keragaman dan inovasi global yang ada di Benua Kuning. Secara eksternal, perubahan ini menuntut transformasi model bisnis dan praktiknya.
 
Dengan pesatnya perkembangan teknologi, konsep bisnis dan praktiknya harus dibuat lebih simpel. Hal ini untuk memudahkan aktivitas transaksi dan proses negosiasi bisnis. Lalu internalnya, figur individu juga membutuhkan treatment untuk memunculkan jiwa kepemimpinannya. “Faktor eksternal-internal ini harus diurai. Solusi-solusinya sudah dijelaskan dalan Knferensi Asia ini,” katanya lagi.
 
Menguatkan solusi, lebih dari 50 makalah sudah disiapkan dari berbagai latar akademisi. Informasi baru ini didasarkan atas studi mutahir dari berbagai paroblem kepemimpinan. Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Rizki Handayani pun mengatakan, program ini telah menguatkan posisi sumber daya manusia (SDM) dis ektor pariwisata.
 
“Konferensi ini telah menaikan grade SDM khususnya di sektor pariwisata. Masalah kepemimpinan ini memang vital, khususnya di sektor pariwisata. Sebab, target berkembang dan persaingannya semakin ketat. Diperlukan figur tangguh yang bisa membaca arah bisnis dan mencari solusi yang efisien. Untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat di sini,” tutur Kiki-sapaan Rizki Handayani.
 
Menjadi tuan rumah, STP Bali berkolaborasi dengan beberapa latar belakang. Demi mensukseskan event ini, Asosiasi Kepemimpinan Internasional pun digandeng. Badan ini merupakan organisasi sarjana dan praktisi kepemimpinan dari seluruh dunia. Selain itu, peran lokal juga ditingkatkan melalui Universitas Indonesia, Universitas Kristen Petra, dan Universitas Padjajaran.
 
“Langkah yang dilakukan STP Bali ini luar biasa. Mereka mencoba menjawab kebutuhan mendasar dari kebutuhan bisnis di Asia. Program-program seperti ini harus sering digelar. Sebab, pariwisata Indonesia juga butuh pembaruan inovasi yang disertai dengan SDM kompeten,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya.


(Hermansyah )