Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 06 Januari 2018 21:51 WIB

Rizal Ramli: Perguruan Tinggi Harus Bangun Budaya Akademik

Jakarta, HanTer – Di era yang serba teknologi ini, semua mahasiswa dituntut untuk menguasai penggunaan era digital. Maklum, jika tak megnuasai hal tersebut, dijamin seorang mahasiswa bakal tertinggal.
 
Oleh karenanya, setiap perguruan tinggi dituntut melahirkan sarjana-sarjana handal yang menguasai digitalisasi.
 
“Intinya perguruan tinggi Indonesia tidak bisa instan serta merta masuk daftar perguruan tinggi yang diakui dunia (world class university) kalau budaya akademik tidak dibangun,” kata Dewan Penasihat Asosiasi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia (APPERTI), Rizal Ramli di acara seminar nasional bertajuk Tantangan Perguruan TInggi Swasta di Era Digital Disruption, di Universitas Yarsi, Jakarta, Jumat (5/1/2018). 
 
Dikatakannya, perkembangan teknologi saat ini, mengharuskan perguruan tinggi dan segala civitas akademiknya harus belajar untuk lebih demokratis. “Tidak feodal karena akan berhadapan dengan generasi yang tidak akan manut begitu saja,” tambahnya.
 
Selain itu, dia juga mengkritisi perguruan tinggi di Indonesia yang hanya terfokus pada formalitas seperti akreditasi atau sekadar mengejar angka sertifikasi dosen. “Hal yang utama tentu membangun budaya akademik,” ujarnya. 
 
Sedangkan, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) M. Budi Djatmiko yang hadir di acara serupa menyebutkan, perguruan tinggi di Indonesia harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang era digital disruption yakni era keterkejutan dengan teknologi digital.
 
“Kalau saya melihat saat ini mereka belum terlalu aware dengan perubahan zaman. Kalau tidak melakukan apa-apa, maka lambat laun akan tergilas dan perguruan tinggi itu tutup,” katanya.
 
Saat ini saja jumlah mahasiswa di kampus sudah mulai berkurang 20-30%. Mereka menggunakan teknologi digital untuk kuliah. Karena itulah, kesiapan kampus dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) dan juga teknologi yang ada, harus pula didukung oleh regulasi pemerintah. 
 
"Tapi yang terjadi kita belum siap, internetnya belum siap, regulasi dan pemerintah belum siap. Kampus yang siap masih hitungan jari, seperti ITB , ITS, dan Binus,” katanya.
 
Sejumlah narasumber yang hadir, antara lain, Ketua Umum APPERTI Prof. Dr. Jurnalis Uddin, PAK, Direktur ESQ 165 Dr. Ary Ginanjar Agustian, dan Ketua Umum Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Dr. Dino Patti Djalal.
 
Mantan Ketua DPR yang juga Ketua Dewan Pengawas APPERTI Marzuki Alie berharap dunia pendidikan Indonesia dapat semakin meningkat lagi dengan melakukan sinergi dengan semua pihak. 
 


(Alee)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats