Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 13 September 2017 19:14 WIB

Dosen Biologi UNAS, Dr Sri Suci Masuk Nominasi Indianapolis Prize 2017

Jakarta, HanTer - Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional (UNAS), Dr Sri Suci Atmoko masuk daftar nominasi untuk penghargaan bergengsi di bidang konservasi satwa, Indianapolis Prize, Selasa (12/9). Dari 32 finalis tersebut, dosen Pascasarjana Magister Biologi Unas ini, merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut. Dr. Suci sangat aktif melakukan konservasi satwa, khususnya Orangutan.
 
Para nominator Indiana Prize dipilih karena dianggap berpengaruh dan memiliki kontribusi nyata terhadap konservasi fauna. Tidak hanya menyelamatkan spesies fauna, namun juga populasi dan ekosistemnya. Masuknya Suci dalam daftar nominasi penghargaan Indianapolis Prize ini, tidak terlepas dari kiprahnya selama 30 tahun di bidang konservasi orangutan.
 
Menanggapi hal ini, Suci mengaku sangat senang dan mengapresiasi hal tersebut. Nominasi Indianapolis Prize ini, lanjutnya, juga menjadi bukti semakin diakuinya peneliti-peneliti Indonesia di mata dunia.
 
“Saya sangat mengapresiasi hal ini, karena ini artinya dunia Intenasional mulai melihat peneliti Indonesia. Selain itu, konservasi primata di Indonesia juga semakin bermakna di mata dunia dan saya berharap hal ini dapat menjadi tauladan bagi semua peneliti dan generasi muda Indonesia,’’ ungkap Suci dalama rilis yang disampaikan Humas UNAS, Rabu (13/9/2017).
 
Konservasionis Penting
 
Michael Crowther, Presiden dan CEO Indianapolis Zoo, mengatakan para finalis Indianapolis Prize  2017 ini adalah para konservasionis yang paling penting dan berprestasi di lapangan saat ini.
 
‘’Para finalis ini tidak hanya melindungi satwa namun juga berhasil menciptakan metode konservasi yang sukses untuk menjaga kelangsungan hidup satwa di masa mendatang. Kami memuji prestasi mereka dan mengajak masyarakat, organisasi, perusahaan dan pemerintah untuk bergabung bersama-sama mereka untuk melakukan konservasi satwa,’’ ujar Michael Crow dalam siaran persnya.
 
Mereka, lanjut Michael, berasal dari berbagai negara dan lintas benua, yang memfokuskan diri pada satwa unik dan menjadi simbol, dari primata, mamalia laut hingga reptil dan burung. Tahun ini, Indianapolis Prize membawa lebih banyak koleksi penelitian individual dari ekosistem Asia, termasuk satwa-satwa yang populasinya dalam bahaya, seperti orangutan, macan tutul salju, harimau, dan kukang.
 
Nantinya, kata Michael, ke 32 finalis ini akan diseleksi kembali menjadi 6 pemenang. Pemenang pertama akan mendapatkan hadiah utama berupa uang tunai sejumlah 250.000 dolar Amerika Serikat dan lima finalis lainnya, masing-masing akan mendapat 10.000 dolar Amerika Serikat. Para pemenang juga akan mendapatkan Mendali, untuk pencapaiannya.  
 
Pemenang Indianapolis Prize akan ditentukan oleh juri yang terdiri dari para peneliti dan pemimpin konservasi terkemuka di dunia dan penganugerahan Indianapolis Prize akan digelar 29 September 2017. Indianapolis Prize merupakan penghargaan bergensi untuk para penggiat konservasi satwa, yang sudah diadakan sejak 2006.


(Danial)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats