Di Publish Pada Tanggal : Senin, 11 September 2017 20:56 WIB

Tanpa Koordinasi, Sulit Tekan Angka Buta Aksara

Jakarta, HanTer – Pemerintah didesak mempercepat penanganan buta aksara di Indonesia. Apalagi, masih terdapat sekitar 3,4 juta warga masih belum mengenal huruf dan mampu membaca.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih menilai, permasalahan lambannya pengentasan buta aksara adalah tidak berjalannya koordinasi antar lintas pemerintah dan lembaga negara.

Di mana, jelas dia, program pemberantasan buta aksara ada di Ditjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud, sementara yang terus memantau tingkat buta huruf adalah Perpurnas. “Sayangnya koordinasi diantara kedua pihak belum terlihat," kata Abdul Fikri, dikutip Senin (11/9/2017).

Tidak hanya itu, kata dia, pemerintah daerah juga masih belum memiliki keberpihakan anggaran untuk mengatasi masalah buta aksara ini. “Faktanya pemerintah daerah masih tergantung pemerintah pusat terutama dari sisi anggaran,” ujarnya.

Kemendikbud, sebelumnya menyatakan angka bebas buta aksara di Tanah Air mencapai 97,93 persen sehingga sekitar 2,07 persen atau 3,4 juta warga masih belum mengenal huruf dan mampu membaca.
Jumlah buta aksara di Tanah Air terjadi pada usia 15-59 tahun yang tersebar di 11 provinsi. Sebanyak 28,75 persen warga di Papua masih belum mampu mengenal huruf dan membaca, hal itu mengakibatkan Papua menjadi provinsi paling tinggi angka buta hurufnya demikian siaran pers yang diterima Antara hari Senin.

Selain Papua, sejumlah provinsi di Indonesia juga masih buta huruf dan belum mampu membaca. Sebanyak 7,91 persen di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), 5,15 persen di Nusa Tenggara Timur (NTT), 4,58 persen di Sulawesi Barat, 4,50 persen di Kalimantan Barat, 4,49 persen di Sulawesi Selatan, 3,57 persen di Bali, 3,47 persen di Jawa Timur, 2,90 persen di Kalimantan Utara, 2,74 persen di Sulawesi Tenggara, dan 2,20 persen di Jawa Tengah.

Dari indeks buta huruf di dunia, berdasarkan riset dari Rektor Universitas Central Connecticut State di New Britain, John Miller, menyatakan pada tahun 2016 Indonesia masih menempati peringkat 60 dari 61 negara yang berhasil dihimpun datanya.

Riset ini menekankan pada hasil ujian mengenal huruf dan juga melihat karakteristik sikap terpelajar. Contohnya, jumlah perpustakaan dan koran di sekolah serta ketersediaan komputer di sebuah negara. Sehingga pada riset ini tidak hanya melihat kemampuan penduduk negara dalam membaca dan menulis saja, namun juga perangkat pendukung dan sikap terpelajar warganya. 

 


(Abe/Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats