Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 11 Agustus 2017 15:27 WIB

IPB Ciptakan Varietas Tanaman Unggulan Hadapi Impor Pangan

Jakarta, HanTer - Institut Pertanian Bogor (IPB) menciptakan berbagai varietas tanaman unggulan untuk mengurangi ketergantungan impor, salah satunya adalah cabai varietas baru yang memiliki delapan degradasi warna berbeda menyerupai pelangi.
 
Dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas), dosen Program Keahlian Teknologi Industri Benih Program Diploma IPB Undang SP MSi, di Bogor, Jumat, (11/8/2017) menjelaskan salah satu upaya mengurangi ketergantungan impor pangan seperti beras bisa dilakukan dengan cara penganekaragaman pangan berupa padi, cabai, sagu, jagung, singkong, ubi jalar serta kentang.
 
"Selain itu, pihak terkait juga bisa membatasi konversi lahan pertanian yang akan dijadikan bangunan, sehingga lahan sawah tetap ada bahkan ditambah luas areal sawahnya," kata Undang.
 
Selain menambah luas areal sawah, kegiatan menciptakan dan mengembangkan varietas unggulan tanaman yang mampu menyesuaikan dengan lingkungan dan mampu memproduksi dengan kualitas tinggi dikenal dengan istilah program intensifikasi dan ekstensifikasi harus terus berjalan.
 
Menurutnya, upaya intensifikasi dan ekstensifikasi itu dilakukan dengan cara penggunaan pupuk, bibit unggul, pengairan, pemeliharaan, dan penyuluhan kepada petani di Indonesia.
 
IPB, menurutnya, sudah menciptakan padi varietas 3S yang menghasilkan gabah 11,5 ton per hektare, dan varietas 4S yang menghasilkan gabah 10,4 ton per hektare. Angka produksi ini dua kali lipat lebih dari rata-rata produktivitas padi nasional hanya 5,05 ton per hektare.
 
Selain pangan, IPB juga menciptakan varietas cabai IPB CH3 yang produktivitasnya mampu menghasilkan 1,11 kilogram per tanaman atau sekitar 15 ton per hektare, untuk kentang varietas Jala Ipam menghasilkan sebanyak 21,7 ton per hektare, sedangkan untuk jagung manis varietas SD3-IPB menghasilkan 15 ton tongkol muda per hektare, dan varietas kedelai hitam menghasilkan 2,1 ton per hektare.
 
Varietas tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor, katanya lagi.
 
Dia menyatakan, memberikan penghargaan yang layak bagi para petani juga perlu dilakukan, misalnya dengan pembelian gabah atau hasil pertanian, sehingga petani termotivasi untuk mengembangkan pertanian.
 
Dalam rangka pengembangan dan penyebarluasan varietas, IPB bekerja sama dengan penangkar benih atau gabungan kelompok tani (gapoktan) di daerah.
 
Varietas padi IPB 3S dan 4S merupakan varietas padi unggul dan sudah diuji di IPB. Varietas ini sudah dilepas dengan nama galur padi sawah IPB 97-F-15-1-1 pada 28 Maret 2012 di Jakarta melalui SK Menteri Pertanian Nomor: 1112/kpts/SR.120/3/2012.
 
Penyebaran varietas milik IPB itu sudah didistribusikan dan ditanam hampir di seluruh Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua.
 
Namun, pemerintah masih membuka keran impor untuk pangan di Indonesia. Karena itu, Undang mengingatkan kebijakan impor ini merupakan kebijakan pemerintah dan kesepakatan antarnegara, hanya saja saat ini yang perlu dicek dan diawasi adalah jumlah kebutuhan impor dan kualitas produk, sehingga produk dalam negeri tetap menjadi yang utama.
 
Undang berharap pihak yang membuat kebijakan terkait pertanian di Indonesia semakin memperhatikan nasib petani demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
 
"Saya berharap semakin dihargai dan diperhatikan nasib para petani, sehingga mereka masih mau bertani, dan terkait Hari Teknologi Nasional semoga tercipta teknologi yang ramah lingkungan, murah, aplikatif, dan mudah dijangkau oleh petani," kata Undang lagi.
 


(Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats