Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 24 Februari 2017 21:40 WIB

Marak Konten Negatif, Reformasi Perbukuan Nasional Mendesak

Jakarta, HanTer - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dilakukannya formasi perbukuan nasional, mengingat semakin banyaknya peredaran buku yang menyimpang hingga menampilkan konten berbau pornografi.

Ketua KPAI, Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan, salah satu bentuk reformasi perbukuan nasional adalah melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Perbukuan Nasional, yang hingga kini belum disahkan DPR RI.

“UU Sistem Perbukuan Nasional harus segera disahkan agar kejadian serupa tidak terulang. Pemerintah harus menjamin masyarakat layak mengonsumsi buku berkualitas, bukan buku-buku soal kekerasan, terorisme atau pencabulan," kata Asrorun dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Pernyataan Ketua KPAI tersebut berkaitan dengan munculnya buku anak kontroversial berjudul 'Aku Berani Tidur Sendiri’. Buku tentang pendidikan seksual secara dini itu menghebohkan masyarakat baru-baru ini, karena memberikan pemahaman tentang ‘masturbasi’.

Asrorun melanjutkan, gagasan regulasi perbukuan telah 10 tahun lalu diwacanakan namun dalam perjalanannya hanya berakhir pada diterbitkannya Undang-undang tentang Perpustakaan pada 2007. "Reformasi politik terjadi pada 1998, reformasi hukum dengan adanya peraturan perundang-undangan, terkait perbukuan belum cukup diatur," tegasnya.

Ironisnya, kata dia, selama ini pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah juga tak optimal dalam melakukan pengawasan buku. Hal ini diperparah dengan hukum rimba yang berlaku di masyarakat, di mana setiap orang atau siapapun bisa menuliskan hal yang melahirkan ujaran kebencian dan norma yang bertenangan dengan prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara.

Meski memacu untuk meningkatkan kreativitas, tapi tanpa ada dasar dan regulasi yang jelas, justru bisa membahayakan. Apalagi, jika buku berkonten negatif dikonsumsi oleh kalangan anak-anak.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengingatkan, sebelum buku terbit perlu benar-benar dikaji atas kelayakan produk baik dilihat dari aspek konten, ketepatan pilihan kalimat, ilustrasi yang sesuai fase perkembangan sasaran buku termasuk memperhatikan prinsip-prinsip kepentingan terbaik bagi anak.

Terlebih, kata Susanto, pembangunan karakter generasi merupakan hajat besar bangsa Indonesia. Selain itu, buku bukan sekedar berisi informasi dan ilmu tapi juga media pembentuk kepribadian generasi. Sehingga, peneritan buku perlu dilihat dari multidisiplin, baik psikologi, nilai keagamaan, kekhasan budaya bangsa Indonesia serta sisi edukasi.

"Ke depan perlu perbaikan sistem perbukuan nasional agar memproduksi buku yang bermutu menjadi budaya penulis dan penerbit, bukan semata mengejar pasar," kata dia.

 

 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats