Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 20 Desember 2016 23:59 WIB

Masyarakat Diminta Bantu Cegah Kekerasan Anak di Sekolah

Bogor, HanTer - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) tengah meluncurkan sekolah ramah anak dengan melibatkan peran serta masyarakat. KPPPA melakukannya untuk mengantisipasi kekerasan terhadap anak sekolah seperti yang terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT).  

"Kita sudah meluncurkan sekolah ramah anak dengan melibatkan masyarakat sehingga jika ada orang-orang yang mencurigakan bisa kita cegah," ujar Sekretaris Menteri PPPA, Wahyu Hartomo dalam kegiatan Forum Wartawan Peduli Perempuan dan Anak, di Megamendung, Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Menurut Wahyu, peran serta masyarakat sangat diperlukan untuk membantu pemerintah untuk mengatasi kekerasan terhadap anak sekolah. Karena tanpa peran serta masyarakat maka akan sulit mencegah kekerasan terhadap anak sekolah. Ini dibuktikan dengan adanya orang asing yang leluasa masuk ke dalam SDN Sabu Barat, Sabu Raijua, NTT, hingga membuat tujuh siswanya terluka. 

"Untuk kasus di NTT kita sedang cermati bersama Dikbud, kok bisa orang luar masuk ke dalam sekolah. Sehingga ke depan anak-anak bisa sekolah dengan nyaman ," jelasnya. 

Kriteria

Wahyu menuturkan, ada beberapa kriteria untuk menciptakan sekolah ramah anak. Diantaranya tidak ada lagi kekerasan yang dialami anak sekolah. Selain itu antar siswanya juga tidak melakukan bulying, guru harus menyapa dengan ramah. Yang terpenting para siswanya mentaati peraturan yang dibuat bersama sekolahnya. 

"Selain itu pagar sekolah juga harus ditutup. Penjaga sekolah juga harus aktif tidak hanya di ruang belakang saja. Gurunya juga harus mencermati lingkungan sekolah dengan seksama," jelasnya. 

Seperti diketahui tujuh siswa SDN Sabu Barat, Sabu Raijua, NTT menjadi korban kekerasan dari orang tidak dikenal Selasa (13/12/2016) kemarin. Pelaku yang akhirnya tewas berinisial I, pria berusia sekitar 23 tahun asal Depok, Jawa Barat. 

Sambil memegang pisau, I tiba-tiba masuk ke dalam kelas V SDN 1 Sabu Barat sekitar pukul 08.47 WITA dan langsung melakukan penyerangan. Di dalam kelas, ia langsung menuju ke bangku belakang tempat duduk seorang siswa bernama NOP, 11 tahun. Pelaku langsung memutar wajah Naomi dan berusaha menggorokkan lehernya. Setelah itu pelaku langsung melukai enam anak lain.

Aksi brutal pelaku baru terhenti setelah anggota Koramil 1627/04 Sabu Raijua datang mengamankannya. Kebetulan, Gedung SDN Sabu Barat berdiri tak jauh dari kantor Koramil. Ketujuh korban tersebut yakni NOP (11 tahun), JAA (11 tahun), MKY (8 tahun), GRR (11 tahun), DSK (11 tahun), AT (10 tahun), dan AMD (11 tahun).

Pelaku sempat diamankan di Polsek Sabu Barat. Namun massa yang mendengar kabar ini langsung menggeruduk kantor Polsek meminta pelaku dikeluarkan dari ruang tahanan. Mereka menjebol dinding tahanan lalu mengeroyok tersangka dengan kayu dan batu hingga tewas. Warga juga sempat berniat menyeret pelaku keluar dari tahanan untuk dibakar. Namun petugas kepolisian berhasil mencegahnya. 

 


(Safari/Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats