Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 19 Agustus 2016 21:41 WIB

Universitas Nasional & Chuo Diskusi Tingginya Kasus Bunuh Diri di Jepang

Jakarta, HanTer - Sebanyak 14 orang mahasiswa Universitas Chuo Jepang bertandang ke kampus Universitas Nasional (Unas), Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pada kesempatan ini mahasiswa dari Fakultas Studi Kebijakan Publik itu berdiskusi dengan mahasiswa program studi Sastra Jepang Unas soal Agama dan meningkatnya kasus bunuh diri di Jepang. 
 
 ‘’Di Jepang, angka bunuh diri sangat tinggi. Bahkan, Jepang merupakan negara peringkat ke 18 dari 172 negara yang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Sedangkan Indonesia, menempati peringkat ke 136. Kami ingin mengetahui apakah agama berperan dalam menekan angka tersebut,’’ kata Takamitu Suzuki, salah satu mahasiswa asal Jepang itu. 
 
Suzuki tertarik mempelajari Indonesia, terutama agama Islam yang menjadi agama mayoritas penduduk di Indonesia. Menurutnya, masyarakat Jepang, lanjutnya, memandang agama bukan sebagai pedoman hidup. Banyak dari masyarakatnya yang tidak percaya agama. Bahkan, sekolah negeri di Jepang tidak mengajarkan agama kepada siswanya. Berbeda dengan di Indonesia. 
 
 ‘’Di Chuo, saya mengajar tentang Indonesia, bahasa, budaya dan agamanya. Mahasiswa saya sangat tertarik dengan Indonesia, karena sangat berbeda dengan Jepang. Interaksi orang-orangnya, budayanya dan juga agamanya.  Ini adalah tahun ke dua saya membawa mahasiswa saya datang ke Indonesia, dan setiap tahun jumlahnya bertambah,’’ ungkap Professor Hisanori Kato, Ph.D, dosen Fakultas Studi Kebijakan Publik, Universitas Chuo, Jepang.  
 
Kato merupakan dosen program studi Sastra Jepang Universitas Nasional pada kurun waktu 2004-2009. Tak heran jika pria berkacamata ini sangat fasih berbahasa Indonesia.
 
Meskipun terbata-bata, para mahasiswa Jepang ini menunjukkan kemampuannya dalam berbahasa Indonesia ketika melakukan presentasi. Meskipun ada beberapa kata yang salah pengucapannya, apresiasi tinggi diberikan para mahasiswa program studi Sastra Jepang Universitas Nasional kepada mereka. Seperti yang diungkapkan salah satu mahasiswa Jepang ini.
 
‘’Di Jepang, banyak ada dukun. Dukun memberi ramahan (ramalan, red). Ramahan ada yang baik ada yang tidak baik. Kami di Jepang, percaya ramahan baik, tapi tidak yang tidak baik,’’ ungkap salah satu mahasiswa asal Jepang, Ayaka dalam presentasinya. Mahasiswa ini bermaksud menjelaskan tentang ramalan yang diberikan oleh dukun. Tapi alih-alih mengatakan ramalan, dia menyebutnya dengan kata ramahan.
 
Setelah presentasi mahasiswa Jepang, mahasiswa asal Indonesia juga bergantian menggambarkan kondisi agama di negaranya. Tak hanya melakukan presentasi, mereka pun saling bertukar pertunjukkan budaya. Mahasiswa Indonesia membawakan tarian Jepang dan mahasiswa  Jepang menyanyikan lagu berbahasa Indonesia.
 
Kegiatan ini merupakan bagian dari Student Forum yang diadakan oleh Program Studi Sastra Jepang Universitas Nasional dengan Fakultas Studi Kebijakan Publik Universitas Chuo, Jepang.  
Menurut Wakil Ketua Pusat Pengkajian Jepang Universitas Nasional, Uccu Fadilah,  agenda tahunan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara Jepang dengan Indonesia. Tentang topiknya sendiri Uccu memiliki pandangan sendiri.
 
”Mereka (orang Jepang-red) umumnya tidak percaya agama artinya kepercayaan mereka berbeda dengan kita terhadap agama, kita jelas adanya agama ya adanya tuhan, sedangkan mereka beranggapan semua yang ada disekitar mereka dianggap sebagai tuhan. Jadi kegiatan keberagamaan mereka berbeda dengan kita, dengan cara yang berbeda mereka menunjukan bahwa mereka mempercayai kekuatan tuhan,” ungkap Uccu. 
 


(Akbar)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats