Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 06 April 2016 05:55 WIB

Demi Tiket Universitas Favorit, Siswa Rela Beli Kunci Jawaban UN

Jakarta, HanTer – Posko Ujian Nasional (UN) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menerima 19 laporan masalah penyelenggaraan UN 2016 pada hari pertama di sejumlah wilayah di Indonesia. 
Ketua FSGI, Retno Listyarti mengatakan, 19 laporan itu didapati dari wilayah Jakarta, Surabaya, Bogor, Tanjung Redeb (Berau), Kota Palu,  Mamuju, Kota Medan, Lampung dan Pekalongan. Dari 19 laporan, lima di antaranya berkaitan dengan maraknya jual beli kunci jawaban.
 
Ia menerangkan, fenomena jual beli kunci jawaban akan terus menerus terjadi, karena setiap anak dan orangtua masih menginginkan bisa diterima di sekolah atau perguruan tinggi (PT) favorit. “Sepanjang UN masih digunakan untuk parameter lain selain pemetaan, maka potensi kecurangan akan terus terjadi,” kata Retno dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (5/4/2016).
 
Sekretaris Umum Serikat Guru Indonesia (Segi), Slamet Maryanto menjelaskan, terdapat kunci jawaban masih beredar di kalangan siswa yang membeli dengan cara patungan. Patungannya mulai dari Rp 20 ribu per siswa di Cimahi, Rp 150 ribu per siswa di Jakarta sampai Rp 300 ribu per siswa di Pare Pare.
 
Laporan itu, kata Slamet, berdasarkan hasil  penelusuran FSGI kepada para siswa mengenai pembelian kunci jawaban tersebut. Para siswa mengakuinya tapi mereka menegaskan tidak langsung percaya 100 persen kunci tersebut. “Mereka masih tetap belajar, itu hanya untuk jaga-jaga dan kadang tidak dipakai sama sekali,” paparnya.
 
Diluar masalah jual-beli kunci jawaban, lanjut Retno, posko juga menerima laporan minimnya jumlah komputer sebagai fasilitas sekolah menyelenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Sehingga, pihak sekolah harus pontang panting mencari pinjaman laptop kemana-mana.
 
“Banyak orangtua siswa yang merelakan laptopnya dipinjam selama 2 minggu oleh sekolah.  Sekolah rata-rata harus meminjam laptop 20 hingga 60 buah,” tutur Retno.
 
Atas temuan-temuan itu, papar Retno, FSGI telah menyerahkan laporan dan data kepada pihak Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Itjen Kemendikbud). Ia berharap, Irjen Kemendikbud mengedepankan pembinaan dan solusi jika benar telah terjadi kebocoran kunci jawaban. 
 
“Ini karena hanya Inspektorat yang bisa menelusuri kebenarannya, apalagi di tiap kunci itu terdapat petunjuk soal. FSGI menyatakan juga telah membicarakan hal ini dengan Irjen Kemendikbud untuk bisa ditindaklanjuti tanpa harus membuka nama pelaku dan sekolahnya ke publik,” paparnya. 
 
Sebelumnya, Irjen Kemendikbud, Daryanto, menegaskan, semua kunci jawaban yang beredar adalah palsu. Praktek ini ditenggarai dilakukan oleh oknum-oknum yang berniat mencari keuntungan dari pelaksanaan UN.
 
“Jika ada kunci jawaban yang beredar itu palsu. Itu bahaya untuk anak-anak sekolah, dan membuat keuntungan pihak tertentu,” kata Daryanto di Jakarta, Senin (4/4/2016).
 
Daryanto dengan keras mengancam pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan melalui menyebar kunci jawaban palsu. Apabila ditemukan, pihaknya akan memberikan sanksi tegas hingga membawa masalah ke ranah hukum. 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats