Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 20 April 2018 19:44 WIB

Pekerja Perempuan Abaikan Gaya Hidup Sehat

Jakarta, HanTer - Perempuan pekerja diingatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan guna mencegah generasi yang terlahir dalam kondisi kerdil (stunting). Saat ini, angkatan kerja perempuan di Indonesia mencapai 40 persen dari keseleruhan jumlah angkatan kerja di Indonesia.

"Stunting berawal dari ibunya yang kekurangan gizi. Perempuan kalau gizinya nggak bagus, berpengaruh tidak hanya pada dirinya sendiri, tetapi pada keluarga dan generasi selanjutnya," kata Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan, Kartini Rustandi di Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Kartini mengkhususkan pada pekerja perempuan yang rentan mengalami kelelahan karena beban pekerjaan ditambah gaya hidup yang tidak sehat. Ia menyebutkan sebagian besar pekerja perempuan kurang beraktivitas fisik, ditambah lagi tidak mengatur pola makan sehat. "Seringnya naik ojek 'online' dan mau turunnya sampai depan kantor," katanya.

Kartini menyebutkan kebanyakan perempuan pekerja di Indonesia mengalami anemia. "Umumnya pekerja wanita di Indonesia anemia. Ketika dia haid, cukup banyak mengeluarkan darah. Kalau makanan dan gizinya kurang, akan jadi anemia," kata Kartini.

Pemerintah melalui kerja sama lintas kementerian telah mengatur mengenai pemberian hak pada pekerja perempuan berupa sarana ruang ASI, ruang pengasuhan anak, fasilitas pelayanan kesehatan, serta pemberian cuti haid, cuti hamil dan melahirkan.

Seperti dilansir dari Antara, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjalankan tugasnya untuk melakukan sosialisasi serta imbauan kepada perusahaan sementara Kementerian Ketenagakerjaan akan melakukan pengawasan mengenai pelaksanaannya.

Kartini mengingatkan agar para pekerja perempuan itu sendiri harus menghargai tubuhnya dengan memberikan hak dan bekerja sesuai dengan kemampuan. Ia mencontohkan mengenai cuti melahirkan selama 3 bulan yang diberikan oleh perusahaan yang seharusnya diambil 1,5 bulan sebelum dan sesudah melahirkan.

"Akan tetapi, semua ambil 3 bulan di akhir, alasannya ingin dekat dengan anak. Padahal, cuti 1,5 bulan sebelum itu untuk persiapan sebelum persalinan agar kondisinya fit," katanya.

 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats