Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 10 April 2018 20:16 WIB

Kaji Metode Terapi “Cuci Otak”, Menkes Tunggu Permintaan Resmi PB IDI

Jakarta, HanTer – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta tim Health Technology Assesment (HTA) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menkaji metode “cuci otak” yang digunakan olehKepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Mayjen TNI Terawan Agus Putranto, dalam memberikan terapi pengobatan kepada pasiennya.

Terkait hal ini, Menteri kesehatan (Menkes) Nila Moeloek mengatakan, masih menunggu permintaan resmi PB IDI terkait kajian yang perlu dilakukan. Sebabnya, Kementerian Kesehatan mengedepankan kehati-hatian dalam mencermati masalah dan menelaah solusi pada kasus dokter Terawan.

“Kemenkes menunggu penjelasan lengkap secara resmi melalui surat atau secara langsung atas rekomendasi hasil rapat PB IDI tanggal 8 April 2018 lalu terkait keputusan mengenai kasus dr Terawan guna mendapatkan informasi yang lebih jelas,” kata Menkes, Selasa (10/4/2018).

Namun begitu, menurut Menkes, Kemenkes bersama pemangku kepentingan terkait segera mencari solusi terbaik atas terapi melalui Digital Substraction Angiography (DSA) atau yang lebih dikenal dengan cuci otak.

Menkes menjelaskan bahwa Komite Penilaian Teknologi Kesehatan (Health Technology Assestment/HTA) Kemenkes saat ini bertugas melakukan kajian dan penilaian teknologi kesehatan terkait program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam rangka kendali mutu dan kendali biaya menghadapi universal health coverage (UHC).

"Dalam mencari solusi terbaik atas kasus ini, Kemenkes berpegang pada peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien yang mengutamakan kebutuhan, manfaat dan keselamatan pasien," kata Menkes.

Sebagai informasi, metode terapi cuci otak melalui Digital Substraction Angiography (DSA) dengan obat heparin yang dilakukan oleh dokter Terawan Agus Putranto sempat menjadi perdebatan mengenai kelayakan tindakan medis tersebut mengingat para ahli mengatakan metode tersebut tidak berlandaskan bukti ilmiah yang kuat.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Syaraf Indonesia (Perdossi) Prof. dr. Moh Hasan Machfoed, Sp.S (K) mengatakan landasan ilmiah tentang metode cuci otak yang dilakukan oleh dr Terawan Agus Putranto masih lemah.

Hasan mengaku telah melakukan penelitian yang hasilnya telah dipublikasikan di BAOJ Neurology Amerika Serikat bahwa terapi heparin pada stroke tidak memiliki landasan ilmiah kuat. Tidak sampai di situ, Prof Hasan dan rekan-rekannya juga mempelajari penelitian ilmiah dr Terawan yang dipublikasikan di Bali Medical Journal yang tentunya sama dengan hasil disertasi. "Dari hasil kajian itu, lagi-lagi disimpulkan bahwa hasil penelitian itu tidak memiliki landasan ilmiah," jelas Hasan.

Ia menyebutkan, salah satu contoh di mana dr Terawan mengambil referensi dari penelitian Guggenmos yang dianggap keliru karena perbaikan stroke menurut Guggenmos bisa dilakukan dengan implantasi microelectrodes di kortek.  "Jadi perbaikan stroke bukan karena heparin. Hal-hal yang tidak akurat semacam ini terjadi pada seluruh diskusi hasil penelitian. Itu sama artinya, bahwa tidak ada satupun referensi yang mendukung hasil disertasi," kata Hasan. 


(Arbi/Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats