Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 23 Februari 2018 21:50 WIB

Program Bantuan Pemerintah Dinilai Tak Optimal

Jakarta, HanTer – Kejadian Luar Biasa (KLB) atau boleh jadi disebut wabah, gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, Papua, dinilai sebagai puncak ‘gunung es’ masalah kesehatan di Tanah Air.

Klaim pemerintah atas KLB gizi buruk di Asmat lantaran faktor geografis yang membuat program-program pemerintah sulit menjangkau memang ada benarnya, tetapi munculnya sejumlah kasus-kasus lain di Indonesia memberikan fakta lain.

Seperti disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay, gizi buruk tidak serta merta hanya terkait lokasi geografis, tetapi juga desain besar pemerintah dalam memerangi masalah tersebut. Salah satu contohnya pada kasus Fitri Fadilan (2), yang meninggal dunia akibat gizi buruk di Tanjung Balai, Sumatera Utara, belum lama ini.

"Gizi buruk ternyata tidak hanya terjadi di Asmat, Papua, tetapi juga di Tanjung Balai, Sumatera Utara," kata Saleh di Jakarta, Jumat (23/2/2018).

Fitri meninggal setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Tengku Mansyur. Dia diperkirakan telah mengalami gizi buruk sejak dua bulan sebelumnya. "Dari laporan masyarakat, Fitri meninggal setelah sempat dirawat beberapa saat di rumah sakit. Fitri dikabarkan tidak bisa tertolong karena orangtuanya terlambat sekali membawanya ke rumah sakit," tuturnya.

Fitri baru dibawa ke rumah sakit setelah mendapat bantuan dan perhatian dari masyarakat di sekitarnya. Orang tuanya tidak mampu membawa ke rumah sakit karena penghasilan mereka sebagai nelayan tidak memadai untuk biaya pengobatan. "Apalagi, mereka mungkin tidak terdaftar sebagai keluarga penerima manfaat yang berhak mendapatkan bantuan sosial," tuturnya.

Yang menjadi ironi, kata Saleh, program-program bantuan sosial (bansos) di era Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla cukup melimpah. Ia mencontohkan seperti beras sejahtera, Program Keluarga Harapan, Kartu Indonesia Pintar dan kartu Indonesia Sehat.

Menurut Saleh, ada banyak anggaran dialokasikan setiap tahun. Namun, gizi buruk tetap masih terjadi.
"Program-program itu ternyata belum menyelesaikan masalah. Presiden Joko Widodo harus melihat dimana letak masalah sesungguhnya," katanya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti perihal bantuan makanan pendamping ASI berupa biskuit yang menjadi program Kementerian Kesehatan bagi masyarakat di daerah-daerah pelosok. Namun, ia menenggarai program ini tidak efektif dan tepat sasaran.

"Bisa jadi, pembagian biskuit itu tidak efektif. Itu perlu juga dievaluasi secara baik," ujarnya.

Sebagai informasi, wabah campak dan gizi buruk yang menimpa Kabupaten Asmat, Papua, menyebabkan 71 anak meninggal dunia dan sedikitnya 800 orang dirawat di rumah sakit. Saat ini, pemerintah sudah mencabut status KLB di Asmat. 


(Arbi/An)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats