Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 23 Januari 2018 21:31 WIB

Program Sektoral, Sulit Tekan Kasus Stunting di Indonesia

Jakarta, HanTer – Upaya pemerintah dalam menekan kasus stunting di Indonesia dinilai tak akan optimal, lantaran sejumlah program yang dijalankan secara sektoral dan belum terintegrasi. Besarnya anggaran yang digelontorkan pun berisiko sia-sia.

Ketua Bidang Ilmiah DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Atmarita mengatakan, alokasi anggaran pemerintah untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia, termasuk stunting, cukup besar karena masing-masing kementerian/lembaga negara memiliki program terkait.

Sayangnya, kata Atmarita, antar kementerian/lembaga negara ini berjalan sendiri-sendiri dalam mengatasai permasalahan tersebut. Alhasil, dampak yang ditimbulkan tak maksimal dan sulit berharap dalam waktu dekat kasus stunting di Indonesia dapat ditekan.

“Harusnya lintas sektoral, terintegrasi. Karena ini terkait kemiskinan, sanitasi, perilaku, ketahanan pangan, pendidikan, pola asuh dan lainnya,” kata Atmarita dalam FGD peringatan Hari Gizi Nasional 2018 di Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Stunting merupakan kondisi tak optimalnya pertumbuhan pada balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Di dunia, Indonesia menduduki posisi ke-17 dari 117 negara dengan angka stunting tertinggi.

Atmarita menuturkan, dalam jangka pendek, persoalan pertama yang harus dibenahi untuk menekan stunting adalah pendataan anak stunting melalui pemantauan pertumbuhan secara rutin, sejak anak lahir hingga usia dua tahun. Melalui pemantauan pertumbuhan, kata dia, akan memudahkan pemerintah maupun tenaga kesehatan untuk melakukan intervensi secara tepat dan cepat. “Ada 34 persen anak di Indonesia yang tidak melakukan pemantauan pertumbuhan, artinya ini harus diatasi terlebih dahulu,” katanya.

Selanjutnya, menambah jumlah posyandu dan kader untuk mengintensifkan edukasi kepada masyarakat. “Sekarang ada 300 ribu posyandu. Walau begitu, masih kurang, karena beberapa daerah belum memiliki posyandu, seperti sejumlah daerah di Kalimantan dan Papua,” ungkapnya.

Aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan, menurut dia, juga tidak kalah penting. “Menyediakan dan mendekatkan pelayanan berkualitas yang terjangkau oleh masyarakat termasuk rujukannya, dengan perhatian khusus pada kelompok penduduk rawan agar setiap janin dalam kandungan tumbuh dan bayi lahir sehat dan selamat. Setiap bayi dan balita hidup sehat, tumbuh dan berkembang secara optimal,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, stunting sendiri terjadi akibat kekurangan gizi yang terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir. Namun stunting baru terlihat setelah anak berusia dua tahun. Stunting juga menyebabkan daya tahan tubuh balita rendah sehingga rawan terserang beragam penyakit. Bahkan, menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.

“Penyebab langsung adalah karena kurang asupan gizi dalam waktu lama disertai infeksi penyakit. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah ketahanan pangan keluarga, pola asuh, kesehatan lingkungan, serta pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Data Persagi mencatat, disparitas stunting di Indonesia cukup tinggi. Dari 415 jumlah kabupaten/kota di Indonesia, hanya 7 kabupaten di Indonesia dengan prevalensi stunting kurang dari 20 persen, yaitu Wakatobi, Kota Pangkal Pinang, Kota Tanjung Pinang, Kota Salatiga, Klungkung, Kota Bitung, dan Tana Tidung. Sedangkan, tertinggi berada di Provinsi Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Berdasarkan jumlahnya, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat, angka kejadian stunting nasional mencapai 37,2 persen. Angka ini meningkat dari 2010 sebesar 35,6 persen. 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats