Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 21 November 2017 23:59 WIB

Penundaan Usia Perkawinan Cegah Anak Lahir Stunting

Jakarta, HanTer – Kasus perkawinan usia dini di Indonesia masih terbilang tinggi. Laporan UNICEF dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terdapat sekitar 1.000 anak perempuan menikah setiap harinya.

Perkawinan usia dini, memiliki beragam dampak. Salah satu yang menjadi persoalaan serius saat ini di Indonesia termasuk dunia adalah stunting, atau anak bertumbuh pendek tidak seusai usia. Kasus ini berkaitan erat dengan perkawinan pada usia yang belum matang.

Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk merevisi peraturan tentang perkawinan khususnya bagi kaum perempuan dari usia 16 tahun menjadi 20 tahun.

“Menunda usia perkawinan, memberikan kesempatan yang lebih baik pada calon ibu untuk menyiapkan dirinya secara fisik dan psikologi. Selain itu, juga mengingatkan tentang pentingnya penyuluhan kesehatan pada anak remaja dan orangtua. Penyuluhan diberikan dengan materi gizi seimbang dan perilaku hidup sehat,” kata Pakar Gizi Prof Fasli Jalal dalam diskusi yang diselenggarakan oleh IMA World Health di Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Menurut dia, menunda usia perkawinan, bisa menjadi langkah tercepat untuk menekan angka stunting.  Jika angka usia dimundurkan dari 16 tahun menjadi 20 tahun, maka banyak hal baik yang berpengaruh positif pada angka stunting. “Bisa dibayangkan, dengan menunda usia perkawinan menjadi 20 tahun saja, bisa mengurangi stunting sekitar sepertiga,” ujarnya.  

Mengutip data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kasus stunting di Indonesia mencapai 37,2 persen. Kasus terbanyak terjadi di Indonesia wilayah Timur.

Ia menuturkan, diperlukan kontribusi gizi  secara serius untuk mencegah anak mengalami stunting. Kontribusi gizi itu ada dua, yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik adalah upaya-upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung.

Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan. Kegiatannya antara lain imunisasi, pemberian makanan tambahan ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu. Sasarannya secara khusus kelompok 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) baik pada ibu Hamil, ibu Menyusui, dan anak    0-23 bulan.

Sementara, intervensi gizi sensitive adalah upaya-upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung. Berbagai kegiatan pembangunan pada umumnya non-kesehatan, yang secara tidak langsung dapat menunjung kesehatan masyarakat. Kegiatannya antara lain penyediaan air bersih, kegiatan penanggulangan kemiskinan, dan kesetaraan gender. Sasarannya masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 HPK.

“Sayangnya, selama ini kita salah memahami. Kita bersusah payah di intervensi gizi spesifik, padahal ini hanya berkontribuksi gizi sebesar 30 persen. Yang 70 persen, intervensi gizi sensitif sepertinya kita lupa,” imbuhnya. 

 


(Abe/CL)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats