Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 21 September 2017 23:41 WIB

KPAI Sinyalir Penyalahgunaan PCC Terus Berlanjut

Jakarta, HanTer - Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia Sitti Hikmawati mengatakan, kasus penyalahgunaan tablet paracetamol, caffeine, dan carisoprodol (PCC) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, minggu lalu merupakan fenomena gunung es.

"Kejadian ini tidak akan langsung berhenti, karena yang muncul di permukaan saat ini hanya bagai fenomena gunung es," katanya di Kendari, seperti dilansir Antara, Kamis (21/9/2017).

Ia mengatakan, pihaknya akan terus mengali faktor-faktor penyebab terhadap kasus ini tentunya dengan berkoordinasi pihak terkait. "Kami perkirakan masih akan berlanjut karena kejadian kemarin tidak serta merta langsung selesai," katanya.

Penelusuran Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kata dia, beberapa anak yang menjadi korban penyalahgunaan tablet PCC di Kendari karena pengaruh lingkungan dan dari anak itu sendiri.

"Kami sudah menemui beberapa korban dan keluarganya, penyebab sudah diketahui kemudian kami rangkum menjadi saran solusi bagi pemerintah daerah untuk menjadi pertimbangan dalam mengeluarkan kebijakan," katanya.

Hikmawati juga mengapresiasi kinerja pihak RSJ Kendari demgan keterbatasan yang ada tetapi bisa berbuat maksimal dengan sigap melakukan penanganan terhadap puluhan korban penyalahgunaan tablet PCC. "Yang harus menjadi perhatian pemerintah bahwa sebagian korban PCC itu dari keluarga tidak mampu, sehingga perlu ada kebijalan pembebasan biaya perawatan atau ditanggung oleh pemerintah," katanya.

Komisioner KPAI, Retno Listyarti, sebelumnya meminta pemerintah bisa lebih sering melakukan sosialisasi tentang penggunaan obat-obat semacam itu. Sebabnya, kata dia, kasus serupa pernah terjadi di Bima, namun tidak terekspos sebesar di Kendari. Ia khawatir, di daerah lain juga ada kasus serupa di mana puluhan anak dicekoki obat-obatan keras oleh orang tak bertanggungjawab.

"Kami harap kementerian menggencarkan kampanye pintar menggunakan obat. Pemerintah harus lebih gencar sosialisasi. Mengonsumsi ini dampaknya mengerikan," ujarnya.

Retno juga mengimbau kepada orangtua dan guru di sekolah untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. "Sensitivitas sebagai orangtua harus tinggi terhadap perubahan anak," kata Retno.

Sebagai informasi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa dari hasil uji laboratorium terhadap tablet PCC menunjukkan positif mengandung Karisoprodol. Karisoprodol sendiri digolongkan sebagai obat keras.

“Mengingat dampak penyalahgunaannya lebih besar daripada efek terapinya, seluruh obat yang mengandung Karisoprodol dibatalkan izin edarnya pada tahun 2013," tulis BPOM dalam keterangan resminya.

Obat dengan kandungan Karisoprodol memiliki fungsi sebagai relaksan otot, tapi hanya berlangsung singkat. Setelah masuk ke dalam tubuh ia akan segera dimetabolisme menjadi senyawa Meprobamat dengan efek menenangkan atau sedatif. Karisoprodol disalahgunakan sebagai obat penambah rasa percaya diri, penambah stamina, juga digunakan para pekerja seks komersial sebagai 'obat kuat'.

Sebelumnya, pada (12/9) sampai (15/9) puluhan warga Kendari dilarikan ke rumah sakit karena menderita kelainan kejiwaan karena diduga penyalahguna tablet PCC. Catatan BNN Kendari, sekitar 80 orang yang jadi korban karena mengkonsumsi tablet PCC hingga terdapat korban meninggal satu orang di rumah sakit. (


(Abe/Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats