Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 22 Agustus 2017 20:27 WIB

Greenpeace Desak Pemerintah Tindak Perusak Habitat Orangutan

Jakarta, HanTer - Greenpeace Indonesia meminta Pemerintah bertindak tegas terhadap para perusak habitat orangutan yang berdasarkan estimasi terbaru dalam laporan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan Indonesia Tahun 2016 jumlahnya semakin menurun.

"Populasi orangutan terus menurun karena deforestasi, penghancuran hutan dan lahan gambut semakin parah," kata Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia Ratri Kusumohartono di Jakarta, Selasa.

Pembukaan hutan dan lahan gambut untuk keperluan industri sangat masif sehingga mempersempit ruang gerak orangutan. Pasalnya, ia mengatakan sebagian besar orangutan hidup di hutan rawa gambut dan dataran rendah, di mana daerah ini sering menjadi sasaran pelaku industri.

Jumlah orangutan di Indonesia terus menurun. Dari estimasi terbaru dalam laporan Population and Habitat Viability Assessment Orangutan Indonesia Tahun 2016 yang diluncurkan hari ini, dinyatakan kepadatan populasi orangutan di daratan Kalimantan (termasuk Sabah dan Sarawak) menurun dari 45 sampai dengan 76 individu per 100 kilometer persegi (km2)(PHVA 2004) menjadi 13 s/d 47 individu per 100 km2.

Seperti dilansir Antara, laporan tersebut juga menyatakan, hanya 38 persen dari sekitar 71.000 individu orangutan yang akan lestari dalam 100 s/d 500 tahun 2018. Dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan, kajian populasi orangutan kali ini dilakukan lebih rinci dengan cakupan wilayah yang lebih luas.

Kerusakan habitat menjadi penyebab utama berkurangnya populasi orangutan. Fakta ini, menurut Ratri, adalah pertanda pemerintah belum melakukan upaya serius untuk melindungi satwa yang terancam punah ini.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kehidupan satwa ini pun terganggu ketika pembukaan lahan menggunakan cara-cara yang tidak berkelanjutan seperti pembakaran lahan. Api membuat mereka bermigrasi ke wilayah lain yang belum tentu bisa menyokong kehidupan mereka atau malah jenis tersebut menjadi korban dalam prosesnya.

Migrasi pun bisa membuat sebuah kawasan mengalami overpopulasi orangutan, penyiksaan orangutan bahkan kerap terjadi karena dianggap merusak perkebunan sawit. "Orangutan di Kalimantan serta Sumatera tidak lama lagi akan punah karena pembukaan lahan yang tidak terkendali semakin merajalela," ujar Ratri.


(Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats