Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 12 Juli 2017 21:13 WIB

Menkes: Angka Gizi Buruk Alami Penurunan

Jakarta, HanTer – Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Moeloek mengatakan, persentase anak yang mengalami gizi buruk kronis di Indonesia telah turun dari 37,2 persen menjadi 27,5 persen dalam kurun waktu tiga tahun terakhir 2014-2016.

"Kami melakukan pemantauan status gizi saat ini dalam kurun tiga tahun terakhir ini memang turun dari 37,2 persen, sekarang menjadi 27,5 persen, tapi dengan pemantauan status gizi, namun angka UNICEF juga menunjukkan angka 29,6 persen jadi memang ada penurunan," kata Menkes Nila Moeloek di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (12/7/2017).

Menkes juga telah memberikan pemaparan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla selaku ketua Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dalam rapat koordinasi di Kantor Wakil Presiden, Rabu sore, bahwa meskipun tingkat anak yang mengalami gizi buruk kronis menurun, namun penyebarannya masih luas dan dialami lintas kelompok pendapatan.

"Saya kira kalau kita lihat nanti ke daerah-daerah kabupaten atau kota, memang ada daerah yang sudah cukup baik, tetapi masih ada yang disparitas ini terjadi di daerah-daerah tertentu, nah kalau kita kaji ini tidak hanya bisa dengan memberikan makanan," kata dia.

Menkes mengatakan bahwa wilayah timur Indonesia masih menjadi tempat dengan tingkat "stunting" tinggi, meskipun tingkat disparitasnya juga tinggi.

Sanitasi

Oleh karena itu, Menkes juga mengusulkan agar faktor eksternal yang mendukung perbaikan gizi melalui gaya hidup sehat juga harus didorong, terutama melalui pembangunan sanitasi dan penyediaan air bersih."Kami butuh sanitasi, air bersih, bahwa kalau tidak ada air bersih, dia juga tidak pernah cuci tangan, ya, cacing jadi ikut masuklah," kata dia.

Selain itu, menurut dia, kesiapan calon orangtua dan kesehatan perempuan saat menjalani masa kehamilan ikut memengaruhi perkembangan anak, baik secara fisik maupun psikis. "Saya sebutnya stimulasi kasih sayang, jadi betul-betul anak yang diinginkan," katanya.

Menurut Menkes, stimulasi kasih sayang sejak di dalam kandungan akan membantu pembentukan sel-sel fisik bayi untuk siap lahir ke dunia, kemudian diteruskan hingga usia dua tahun untuk membentuk sel-sel saraf otak anak.

"Periode dua tahun itu penting sekali untuk mengembangkan otaknya, bukan hanya berat otak atau volumenya, tapi saraf-saraf di dalamnya itu perlu stimulasi baik dari gizi dan dari keluarga yang betul-betul mendidik anak itu dari segi pendidikan dan kesehatannya," katanya, dilansir Antara.

Penyebab kurang gizi kronis pada anak bisa juga terjadi sejak dalam masa kandungan, salah satunya kondisi kesehatan perempuan saat mengandung. "Ibu yang anemia, misalnya, atau ibu hamil kurang darah, nah itu anak-anak akan lahir dengan berat badan rendah, padahal 1000 hari kehidupan itu penting jadi selama di dalam kandungan perlu gizi," kata Menkes. 

 


(Arbi/Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats