Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 28 April 2017 07:36 WIB

Mendorong Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

Jakarta, HanTer - Dewan Pakar Ilmiah International Alliance of Dietary Supplement Associations (IADSA), Andrew Show mengungkapkan terjadinya fenomena pergeseran pola gaya hidup yang akan berakibat pada pergeseran pola penyakit dewasa ini.

“Ilmuwan gizi dan pembuat kebijakan di negara maju telah menggeser fokus mereka dari sebelumnya berurusan dengan penyakit yang disebabkan kekurangan nutrisi, ke paradigma baru yang bertujuan untuk mengatasi kondisi kelebihan nutrisi,” kata Andrew Show dalam konferensi pers di Jakarta, akhir pekan lalu.

Keilmuan tentang nutrisi, kata dia, telah melakukan evolusi. Mulai dari menggunakan pendekatan reduksionis. Pendekatan ini telah diperluas dalam beberapa tahun terakhir untuk menjadi lebih holistik agar masyarakat lebih memahami peran nutrisi dalam konteks yang lebih luas dari pola diet. “Pada akhirnya pendekatan ini akan berujung pada pemahaman penuh dari lanskap diet hubungan interaksi antara faktor gizi, diet, sosial, perilaku dan lingkungan,” kata Andrew. 

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Dedi Kuswanda mengakui saat ini Indonesia menghadapi tantangan berupa perubahan pola gaya hidup masyarakat yang ditengarai menjadi penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit (transisi epidemiologi) dalam 30 tahun terakhir.

“Pergeseran pola penyakit ini akan menjadi hambatan terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan dan produktivitas masyarakat dan semakin besarnya biaya pengobatan yang dibutuhkan,” katanya.

Pergeseran pola penyakit dapat dilihat dari beberapa fakta diantaranya. Dimana, pada era 1990-an, penyebab kematian dan kesakitan terbesar adalah penyakit menular seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), Tuberkulosis (TBC), dan Diare.

Namun sejak 2010, penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan kencing manis (penyakit katastropik) memiliki proposi lebih besar di pelayanan kesehatan. Hal ini dipicu oleh perubahan pola gaya hidup masyarakat ke arah gaya hidup tidak sehat antara lain seperti kurangnya aktivitas fisik, kurang mengkonsumsi sayur dan buah, merokok, konsumsi alkohol, dan lainnya.

Ditempat yang sama, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan Indonesia (APSKI), Patrick A. Kalona, mengatakan produktivitas dan kemajuan negara ini mendapat tantangan dari sisi kesehatan dengan berbagai fakta di atas.

“Maka dari itu, gerakan positif ini perlu didukung dari berbagai pihak, tidak hanya dari pemerintah pusat dan daerah, kementerian dan lembaga pemerintahan serta masyarakat, namun juga pihak swasta dan seluruh pemangkukepentingan yang ada. APSKI mendukung penuh gerakan ini,” ungkapnya. 

 


(abe)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats