Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 24 Maret 2017 07:57 WIB

Kampung Warna-warni Tanpa Rokok, Upaya Perlindungan bagi Perempuan dan Anak

Jakarta, HanTer - Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat tiap tahunnya, berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan hingga tahun 2016 telah mencapai 259.150 kasus.

Evie Permata Sari, Media Officer Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T) mengatakan, gaya hidup merokok, juga menyumbangkan kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan. Alasannya sepele karena tidak mau membelikan rokok, atau memberi uang rokok sehingga suami memukul istrinya.  

"Akibatnya biaya pembelian rokok dalam rumah tangga menjadi prioritas nomor tiga setelah pembelian pangan,” ujar Evie di dalam rangka memperkenalkan Kampung Warna-warni tanpa rokok: Upaya Perlindungan bagi Perempuan dan Anak” di Kampung Penas Tanggul, Cipinang Besar Selatan, Kamis (23/3/2017).

Menurut Evie, dalam Undang-undang No.23 tahun 2004, terdapat empat definisi kekerasan dalam rumah tangga: kekerasan fisik, psikis, ekonomi dan seksual. Gaya hidup merokok juga meningkatkan resiko kekerasan ekonomi dan ancaman bagi ketahanan keluarga.

"Perempuan dan anak adalah dua kelompok rentan yang seringkali tidak mempunyai posisi tawar terhadap bahaya rokok," paparnya.

Survei Sosial Ekonomi Nasional 2016 menempatkan rokok sebagai pengeluaran per kapita terbesar ketiga untuk kelompok makanan di bawah pengeluaran untuk makanan-minuman jadi dan padi-padian. Pengeluaran terbesar masyarakat Indonesia adalah untuk makanan dan minuman jadi sebesar 29 persen, pengeluaran untuk padi-padian 14 persen, dan di urutan ketiga pengeluaran rokok 13,8 persen.

Sementara itu  Azas Tigor Nainggolan dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) menyampaikan bahwa data menunjukan 70% perokok di Jakarta adalah warga miskin. Dalam kesempatan ini secara khusus warga ingin menunjukkan bahwa mereka walau miskin dan kampungnya di pinggir sungai Cipinang tetap bisa menjadi kampung yang sehat, indah dan menarik juga memberi kontribusi positif bagi kota Jakarta.

Warga akan mulai membangun kebiasaan tidak merokok di dalam rumah agar ibu-ibu dan anak-anak mereka tidak terpapar asap rokok ayahnya. Sikap tanpa rokok ini akan terus dikembangkan menjadi kampung yang benar-benar bebas dari rokok.

“Melalui Kampung Warna Warna Tanpa Rokok ini, warga ingin menjadikan kampung percontohan sebagai kampung sehat tanpa rokok melindungi hak hidup sehat bagi perempuan dan anak-anak.“, ujar Tigor menegaskan.

Sumiati Afandi warga Kampung Warna-warni yang mewakili kelompok perempuan. Dia menjelaskan pengalamannya bahwa sangat sulit meminta para suami agar tidak merokok di dalam rumah, ditambah lagi pembelian kebutuhan rokok dalam rumah tangga setiap hari sangat tinggi dibandingkan pembelian kebutuhan gizi untuk anak-anak dan ibu hamil.  

Ide membangun Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok ini diawali oleh hasil kunjungan beberapa wakil warga Penas Tanggul bersama FAKTA ke Kampung Code di pinggir Kali Code Yogyakarta. Kampung Penas Tanggul terletak di jalan Pancawarga 30 Rt:15 Rw:2 (di pinggir sungai Cipinang) Jatinegara Jakarta Timur, tepat dibelakang kantor Kementrian Lingkungan Hidup di jalan DI Panjaitan Jakarta Timur.

Warga kampung Penas Tanggul bersepakat menata kembali kampungnya menjadi kampung yang indah menarik sebagai Kampung Warna Warni dan Kampung Tanpa Rokok. Kesepakatan ini dibangun pada rapat warga tanggal 12 Maret 2017 lalu.

Hal ini dijelaskan oleh Nobby Sail Andi Supu, Kordinator Kampung Warna-warni Penas Tanggul dan Kampung Tanpa Rokok. Saat ini warga sudah mulai berkegiatan mewujudkan Kampung Warna Warni Tanpa Rokok menjadikan kampung percontohan sebagai kampung sehat tanpa rokok yang melindungi hak hidup sehat bagi perempuan dan anak-anak.

Selaras dengan inisiatif warga Kampung Penas Tanggul maka Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T) kembali ingin mengingatkan pemerintah agar segera mengaksesi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). FCTC adalah sebuah kerangka kerja dunia tentang pengendalian tembakau yang dibuat dan disepakati bersama oleh lebih dari 90% Negara di dunia untuk memerangi epidemi tembakau.


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats